Eropa Perluas Dukungan Dialog Ukraina Rusia Saat Fasilitas Nuklir Chernobyl Diserang

Share

Aliansi keamanan informal Eropa E3 memperluas dukungan terhadap proposal dialog langsung antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Langkah diplomatik ini ditujukan untuk mengamankan gencatan senjata dengan partisipasi Amerika Serikat dan Eropa.

Dikutip dari Detikcom, kesepakatan tersebut tercapai saat Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menjadi tuan rumah bagi Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Pertemuan di Downing Street ini menandai tahun kelima invasi skala penuh Rusia di Ukraina.

"Para pemimpin memuji seruan Presiden Zelenskyy untuk mengakhiri perang secara diplomatik, sebagaimana dijelaskan dalam suratnya kepada presiden," bunyi pernyataan bersama ketiga pemimpin Eropa tersebut.

Surat terbuka yang diusulkan Zelenskyy kepada Putin pekan lalu berisi ajakan pertemuan tatap muka. Namun, tawaran itu diabaikan oleh pemimpin Rusia yang menilai pesan tersebut tidak tampak tulus.

Putin mengatakan ia melihat "tidak ada gunanya" bertemu Zelensky sebelum kemungkinan kesepakatan damai tercapai.

Di sela pertemuan, Zelenskyy menyampaikan langsung kepada Starmer mengenai kondisi mendesak yang dihadapi negaranya. Kyiv membutuhkan pasokan militer tambahan untuk mengamankan wilayahnya dari serangan udara.

"I tell Keir about the need for additional missiles for the air defense system and things that are important to protect energy infrastructure and prepare for winter," tulis pemimpin Ukraina itu di X.

Inggris dan Prancis kini memimpin inisiatif "Coalition of the Willing" demi memberikan jaminan keamanan bagi Ukraina. Di sisi lain, Jerman tercatat sebagai negara yang memberikan dukungan terbesar kepada Kyiv dalam jumlah absolut.

Situasi di medan perang masih memanas setelah drone Rusia menghantam fasilitas penyimpanan bahan bakar nuklir bekas di dekat bekas pembangkit Chernobyl pada Minggu (7/6). Badan pengawas nuklir PBB, IAEA, menyatakan tingkat radiasi di lokasi tetap stabil.

Lokasi insiden berada sekitar 15 kilometer dari pembangkit Chernobyl yang menjadi tempat bencana nuklir terburuk di dunia pada tahun 1986. Staf Umum Kyiv dan badan energi atom negara mengonfirmasi bangunan penerima kontainer hancur sebagian, meski tidak ada bahan bakar bekas saat serangan terjadi.

Zelenskyy mengecam keras aksi tersebut melalui pernyataan resmi di akun media sosialnya.

"Hari ini, Rusia kembali menyerang wilayah khusus di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl. Sebuah 'shahed' menghantam salah satu bangunan di Fasilitas Penyimpanan Bahan Bakar Bekas Terpusat," tulisnya di X.

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha turut menegaskan bahwa tindakan ini mengancam keselamatan internasional.

"Pemerasan nuklir Rusia dan ancaman terhadap keselamatan nuklir bersifat sistematis, disengaja, dan tidak dapat diterima," tulisnya di X.

Sebelumnya pada Februari 2025, kubah pelindung reaktor Chernobyl juga sempat dihantam drone Rusia. Kedua belah pihak hingga kini masih saling tuduh terkait serangan ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia.

Masinis Kereta Penumpang Tewas

Sementara itu pada Senin, serangan drone Ukraina menyasar sebuah kereta penumpang rute Moskow–Simferopol. Insiden ini dilaporkan merusak bagian lokomotif kereta.

Kepala wilayah Krimea yang dipasang Moskow, Sergey Aksyonov, memberikan keterangan resmi mengenai korban dalam peristiwa tersebut melalui saluran Telegram.

"Akibat serangan drone musuh terhadap lokomotif kereta penumpang rute Moskow–Simferopol, masinis terluka dan asisten masinis tewas, menurut data awal," kata Sergey Aksyonov.

Seluruh penumpang di dalam kereta dilaporkan selamat dan tidak mengalami luka-luka akibat serangan drone tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author