Elektabilitas Partai Gerindra Turun Menjadi 16 Komma 9 Persen

Share

Hasil riset terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 5–19 Juli 2026 mencatat penurunan elektabilitas Partai Gerindra hingga tersisa 16,9 persen. Penurunan signifikan partai presiden ini terjadi akibat merosotnya evaluasi positif publik terhadap kinerja pemerintah.

Meskipun masih bertengger di posisi puncak, porsi dukungan untuk Gerindra tergerus secara tajam dibandingkan periode survei sebelumnya. SMRC mencatat suara Gerindra sempat mencapai puncak di angka 29,3 persen pada Februari-Maret 2026 sebelum akhirnya melorot pertengahan tahun ini.

Dalam simulasi format semi terbuka, posisi Gerindra dibayangi oleh PDI Perjuangan yang mengantongi 11,7 persen suara, disusul Partai Golkar sebesar 9,6 persen, dan Partai Demokrat di angka 8,1 persen. Sementara itu, PKB meraih 5,4 persen, NasDem 4,4 persen, PKS 4,4 persen, PSI 4,1 persen, Perindo 2,2 persen, PAN 1,9 persen, PPP 1,3 persen, serta Partai Garuda 1 persen, dengan 25,9 persen responden belum menentukan pilihan.

Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menyoroti posisi Gerindra yang kian rawan di tengah statusnya sebagai partai penguasa.

"Peluang Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) sebagai partai nomor satu melemah jika pemilihan umum (Pemilu) diadakan sekarang. Padahal Gerindra adalah partai presiden yang bisa dan akan maju kembali sebagai calon presiden. Biasanya presiden yang akan maju kembali sebagai calon, partainya menjadi nomor 1 seperti Partai Demokrat 2009 dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan 2019," tulis laporan tersebut.

Survei ini menyingkap korelasi kuat antara tren penurunan elektabilitas Gerindra dan dinamika persepsi publik. Penurunan dukungan dalam sembilan bulan terakhir berjalan sejajar dengan merosotnya kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto, kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, serta program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Pergeseran suara juga dialami sejumlah partai politik lain, di mana perolehan PDIP dan Golkar masing-masing melemah dari hasil Pemilu 2024. Sebaliknya, perolehan suara Partai Demokrat terpantau relatif konstan di kisaran 8,1 persen.

“Elektabilitas PKB, PKS, NasDem, dan PAN berfluktuasi sejak Pemilu 2024, namun secara umum cenderung menurun,” ungkap Deni.

Riset nasional ini melibatkan 749 responden secara acak dengan wawancara lewat telepon sebanyak 83,8 persen dan wawancara tatap muka sebesar 16,2 persen. Penelitian ini menerapkan margin of error sekitar kurang lebih 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author