Eks Pejabat Kemenbud Prancis Diduga Membius Ratusan Pelamar Kerja
Mantan pejabat senior Kementerian Kebudayaan Prancis, Christian Negre, kini tengah menjalani penyelidikan resmi atas dugaan membius sekitar 250 perempuan yang melamar pekerjaan di instansinya sepanjang periode 2009 hingga 2018, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Aksi tersebut terungkap setelah kepolisian menemukan dokumen rahasia berjudul Eksperimen P di komputer milik tersangka. Berkas itu mencatat waktu pemberian obat diuretik, respons fisik para korban, hingga deskripsi pakaian dalam mereka saat sesi wawancara kerja.
Salah satu korban, Anais de Vos, membagikan pengalamannya saat mengikuti wawancara kerja di kantor kementerian di Paris pada Juli 2011. Ia mengaku mulai merasakan reaksi aneh di tubuhnya usai meminum kopi yang disajikan oleh Negre.
"Saya benar-benar lemah. Saya tidak bisa merasakan kaki saya lagi," kata Anais de Vos.
Anais menuturkan rasa takut melingkupinya lantaran kehilangan kendali atas kondisi fisiknya secara mendadak saat diajak berjalan ke luar area kantor. "Saya takut. Saya tidak tahu apa yang terjadi," kata Anais de Vos.
Menurut keterangan Anais, minuman yang disajikan memiliki rasa yang kurang menyenangkan sehingga ia hanya menghabiskannya separuh. "Rasanya tidak enak, jadi saya hanya minum sekitar setengahnya," kata Anais de Vos.
Di tengah perjalanan di tepi Sungai Seine, Anais mulai merasakan dorongan kuat untuk buang air kecil. Namun, tersangka justru mengarahkannya ke area bawah jembatan. "Dia menatap mata saya dan berkata, 'Oh, apakah Anda perlu buang air kecil?'" kata Anais de Vos. Anais merasa pandangan mata tersangka tampak sangat aneh dan dipenuhi kegembiraan saat melihatnya kesakitan.
"Saya merasa seperti anak kecil. Kupikir cara dia menatapku sangat aneh, hampir seperti sedang gembira," kata Anais de Vos.
Tersangka kemudian menunjuk sebuah pintu penyimpanan di struktur bawah jembatan untuk digunakan oleh korban. "Kamu bisa melakukannya di sini," kata Anais de Vos menirukan ucapan Christian Negre. Situasi tersebut membuat Anais panik sebelum akhirnya mereka berpindah ke Museum Louvre dan sebuah kafe sekitar.
"Saya mulai panik," kata Anais de Vos.
Anais mengingatkan kembali ingatan samar saat tersangka membimbingnya ke area tertutup tersebut. "Saya samar-samar melihat dia mendorong saya ke dalam ruangan dan menutup pintu di belakang saya," kata Anais de Vos.
Kondisi fisik Anais terus memburuk hingga ia merasa tidak berdaya saat mencoba menuju kamar mandi. "Saat itu saya merasa sangat lemah secara fisik," kata Anais de Vos.
Meski mengalami insiden memalukan di kafe, Anais merasa beruntung karena kejadian itu terjadi di luar pengawasan tersangka. "Setidaknya dia tidak melihat saya," kata Anais de Vos. Ia menambahkan bahwa pakaian yang dikenakannya kala itu membantu menyembunyikan kejadian tersebut.
"Saya sangat syukur hanya mengenakan gaun," kata Anais de Vos.
Baru pada tahun 2019, kepolisian menghubungi Anais dan mengonfirmasi bahwa dirinya merupakan salah satu korban dari ratusan perempuan yang dibius. "Saya terkejut, tapi saya senang mengetahui bahwa saya tidak gila. Sesuatu telah terjadi hari itu," kata Anais de Vos. Proses hukum yang berjalan lambat hingga tahun 2026 membuat Anais yang kini berusia 42 tahun merasa sangat kecewa terhadap sistem peradilan.
"Semuanya meresahkan dan saya marah dengan cara kami diperlakukan," kata Anais de Vos.
Anais mengaku sempat dibiarkan tanpa kepastian informasi selama bertahun-tahun oleh pihak kepolisian. "Selama empat tahun, saya sendirian dengan pengetahuan bahwa saya adalah korban. Saya tidak tahu harus berbuat apa," kata Anais de Vos.
Ia menegaskan kemarahannya atas lambatnya penanganan perkara oleh otoritas setempat. "Saya sangat marah dengan sistem peradilan," kata Anais de Vos.
Korban lainnya, Marie-Helene Brice, mengalami kejadian serupa saat menjalani wawancara kerja di Strasbourg pada tahun 2016. "Dia tidak mengalihkan pandangannya dari saya," kata Marie-Helene Brice. Marie-Helene dipaksa menahan rasa sakit luar biasa saat dibawa berjalan di sepanjang kanal tanpa menemukan toilet umum.
"Saya benar-benar mulai menderita rasa sakit sampai-sampai saya pucat pasi, air mata mengalir deras," kata Marie-Helene Brice.
Ia mengungkapkan rasa malu yang mendalam karena terpaksa buang air kecil di tempat umum di bawah pengawasan tersangka. "Saya sangat malu," kata Marie-Helene Brice. Surat pemberitahuan dari kepolisian di kemudian hari membuat Marie-Helene sangat terkejut atas tindakan terencana pelaku.
"Itu sangat mengejutkan," kata Marie-Helene Brice.
Marie-Helene menegaskan bahwa perbuatan tersangka merupakan bentuk tindak kejahatan berat. "Saya telah diserang, saya telah diracuni, saya telah diracuni, tapi bagi saya ini jelas merupakan kekerasan seksual," kata Marie-Helene Brice.
Prosedur birokrasi dan pemeriksaan medis berulang yang harus dijalani membuat Marie-Helene merasa menjadi korban untuk kedua kalinya. "Sebagai korban, saya harus membuktikan dampaknya, pergi ke psikiater, menulis catatan khusus," kata Marie-Helene Brice.
Ia menuturkan bahwa penundaan kasus ini membuat para korban merasa tidak diperlakukan secara serius oleh hukum. "Kami tidak selalu merasa kami fully dianggap serius," kata Marie-Helene Brice. Marie-Helene akhirnya memutuskan untuk tidak lagi berdiam diri dan mulai bersuara di publik.
"Saya tidak perlu menyembunyikan diri. Saya adalah korban," kata Marie-Helene Brice.
Ia menilai keterbukaan para korban sangat penting untuk membantu korban lain menyadari kejahatan serupa. "Penting bagi saya untuk berbicara di depan umum karena hal itu memungkinkan beberapa korban untuk mengenali diri mereka sendiri, untuk mengetahui bahwa mereka adalah korban dan untuk mengajukan pengaduan," kata Marie-Helene Brice. Marie-Helene menegaskan pentingnya menyuarakan isu ini di tengah masyarakat.
"Berbicara terbuka itu perlu di dunia tempat kita hidup, penting untuk membicarakan tentang seksisme dan kekerasan seksual," kata Marie-Helene Brice.
Isu pembiusan ini mendapat perhatian dari anggota parlemen Prancis, Sandrine Josso, yang menginisiasi program tes medis mandiri pada tahun 2026. "Orang-orang bergerak, korban lebih banyak melaporkan, mengajukan lebih banyak pengaduan, dan itu penting," kata Sandrine Josso.
Pakar toksikologi Rumah Sakit Raymond-Poincare AP-HP, Prof Jean-Claude Alvarez, mengonfirmasi bahwa penggunaan obat diuretik untuk motif ini sangat tidak lazim. "Sekarang di Prancis, kami sedang mencari diuretik," kata Jean-Claude Alvarez.
Perwakilan UN Women, Kalliopi Mingeirou, turut mendesak agar sistem peradilan bergerak lebih cepat menangani kasus kekerasan berbasis obat-obatan. Penyelidikan awal terhadap Christian Negre telah dimulai sejak Juni 2018 setelah ia tertangkap kamera mengambil foto tidak senonoh rekan kerjanya. Negre dipecat pada 2019 dan kini tengah menunggu jadwal persidangan resmi atas tuduhan pembiusan, pelanggaran privasi, serta pelecehan seksual.