Ekonomi Australia Melambat Akibat Penurunan Pengeluaran Rumah Tangga

Share

Pertumbuhan ekonomi Australia mengalami perlambatan yang lebih dalam dari perkiraan pada kuartal pertama tahun ini karena sektor rumah tangga menahan pengeluaran mereka. Penurunan daya beli masyarakat tersebut dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar minyak dan tren kenaikan suku bunga acuan, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Rabu (3/6).

Data resmi pemerintah menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) Australia hanya tumbuh sebesar 0,3 persen pada tiga bulan pertama tahun 2026. Angka tersebut meleset dari estimasi pasar dan hanya mencapai sepertiga dari kecepatan pertumbuhan pada kuartal terakhir tahun 2025, sementara pertumbuhan tahunan tercatat sebesar 2,5 persen.

Kondisi ekonomi ini dipengaruhi langsung oleh kebijakan pengetatan moneter dan gejolak harga energi. Akibat rilis data tersebut, nilai mata uang dolar Australia bergerak fluktuatif di bawah level 71,8 sen AS, sementara imbal hasil surat utang pemerintah tenor tiga tahun langsung memangkas keuntungan sebelumnya.

"Pertumbuhan ekonomi melambat pada kuartal Maret, seiring dengan rendahnya pengeluaran sektor rumah tangga dan sektor publik," ujar Grace Kim, kepala Akuntansi Nasional di Biro Statistik Australia (ABS).

Pihak otoritas statistik juga menambahkan bahwa tekanan biaya hidup yang tinggi telah mengubah pola konsumsi masyarakat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

"Kenaikan suku bunga dan lonjakan signifikan biaya bahan bakar pada bulan Maret tampaknya menciptakan lingkungan yang membuat perilaku konsumen menjadi jauh lebih berhati-hati," kata Grace Kim, kepala Akuntansi Nasional di Biro Statistik Australia (ABS).

Laporan PDB ini menjadi instrumen fundamental yang akan diperiksa ketat oleh bank sentral Australia (RBA) menjelang rapat kebijakan pada 15-16 Juni. Bulan lalu, RBA telah menaikkan suku bunga acuan untuk ketiga kalinya berturut-turut menjadi 4,35 persen demi meredam tekanan inflasi.

Pelaku pasar swap kini memproyeksikan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan RBA bulan Agustus mendatang sebesar 50:50. Di sisi lain, ketegangan geopolitik global berupa perang AS-Iran yang terus berlanjut turut mengerek biaya energi dan memperbesar risiko kontraksi ekonomi pada kuartal berikutnya.

Lembaga keuangan seperti Westpac Banking Corp telah memperingatkan potensi kontraksi ekonomi Australia pada periode April hingga Juni. Di luar masa pandemi, Australia tercatat belum pernah lagi mengalami resesi teknis dalam hampir 35 tahun terakhir.

"memastikan bahwa efek kenaikan harga tersebut tidak mengakar dalam perekonomian Australia," ujar Ian Harper, anggota dewan RBA.

Pernyataan dari pihak internal bank sentral tersebut mengonfirmasi bahwa tekanan inflasi baru sebenarnya sudah muncul sebelum guncangan sektor energi melanda. Ekonom di Goldman Sachs Group Inc menilai respons tersebut menunjukkan sikap RBA yang cenderung agresif dan memprediksi kenaikan suku bunga terakhir sebesar 25 basis poin pada Agustus menuju level 4,6 persen.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author