Editor Buku Pembebasan Palestina Gelar Bedah Buku di FISIP UI
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) Depok memfasilitasi acara bedah buku bertajuk Towards Palestinian Liberation: Global Perspectives on Anti-Colonial Resistance and Solidarity pada Rabu (19/8/2026), dilansir dari Detikcom.
Karya akademis yang diterbitkan pada tahun 2026 tersebut menghimpun beragam sudut pandang akademisi serta aktivis global mengenai dinamika perjuangan, kepentingan politik dan ekonomi, hingga pergerakan solidaritas internasional dalam mendukung pembebasan Palestina dari penindasan.
Editor buku, Hamza Hamouchene, membuka diskusi dengan menjelaskan alasannya menulis kata pengantar yang sarat akan pesan optimisme di tengah situasi krisis yang masih berlangsung.
"Meskipun kami menyadari adanya ketegangan terus-menerus dengan perasaan putus asa, ketidakberdayaan, dan pesimisme. Kami ingin memupuk harapan tersebut di sepanjang halaman buku ini," kata Hamza Hamouchene.
Periset asal London tersebut menyampaikan bahwa penindasan di Palestina bukanlah insiden tunggal, melainkan akumulasi panjang dari dominasi dan eksploitasi. Menurutnya, masyarakat global memiliki kapasitas intelektual untuk terlibat dalam perjuangan ini melalui pemikiran, narasi, maupun aksi nyata.
"Kita harus menemukan harapan dengan membangun keterkaitan lintas sejarah dan wilayah geografis. Melakukannya akan memperlihatkan kepada kita bahwa dunia yang lebih baik bukan hanya mungkin terwujud, melainkan sebagian darinya sudah hadir di tengah kita, dalam sejarah serta praktik keseharian perjuangan, solidaritas, dan kepedulian yang terus dijalani, dikenang, dan dipraktikkan," kata Hamza Hamouchene.
Hamza menegaskan pentingnya karya literatur ini sebagai bagian dari pendorong perubahan sosial dan sejarah perlawanan secara kolektif.
"Oleh karena itu, kontribusi buku ini terhadap pembebasan Palestina merupakan upaya untuk memperkaya ekologi sejarah dan praksis revolusioner kita, bukan hanya demi rakyat Palestina, melainkan demi kita semua dan generasi mendatang," kata Hamza Hamouchene.
Editor lainnya, Abi Bae, menyoroti keterkaitan erat antara kolonialisme Israel dengan sejarah imperialisme Barat yang berdampak luas bagi warga lokal.
"Perbuatan Israel di Palestina dianggap sebagai penindasan dan apartheid," kata Abi Bae.
Dampak penindasan tersebut mencakup kehancuran lebih dari 500 kota Palestina serta peristiwa Nakba yang memaksa lebih dari 750.000 warga mengungsi dari tanah kelahiran mereka. Abi juga mengkritik Rencana Gaza 2035 bentukan Perdana Menteri Israel Netanyahu yang berupaya mengubah kawasan utara Gaza menjadi pusat industri mesin elektrik serta jalur penghubung Asia-Eropa.
"Dalam visi ini, region Gaza menjadi hub perlengkapan di bawah kontrol Israel," kata Abi Bae.
Meskipun terdapat upaya pemindahan paksa tersebut, solidaritas global dinilai terus menguat sejak awal terjadinya aksi genosida untuk mengembalikan warisan internasional bagi kemanusiaan.
"Kita tidak lagi bisa berfungsi di dunia yang terdominasi oleh sistem yang menghasilkan perang tak berakhir. Kita harus mengembalikan warisan internasional untuk Palestina dan dunia," kata Abi Bae.