Drone Serang PLTN Zaporizhzhia Ukraina Gedung Turbin Mengalami Kerusakan
Fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia di Ukraina selatan yang sedang diduduki Rusia dihantam serangan pesawat tanpa awak atau drone pada Sabtu, 30 Mei 2026. Peristiwa tersebut merusak dinding gedung turbin akibat hantaman yang dilaporkan oleh operator setempat, sebagaimana dilansir dari Detikcom melalui laporan AFP pada Minggu, 31 Mei 2026.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi adanya laporan kerusakan tersebut dari operator PLTN yang kini dikelola oleh pihak Rusia. Meskipun menyebabkan lubang pada dinding ruang mesin, serangan udara ini dilaporkan tidak sampai merusak peralatan inti pembangkit listrik terbesar di Eropa tersebut.
Kepala IAEA merespons keras peristiwa yang mengancam keamanan fasilitas nuklir ini melalui pernyataan resmi lembaga di media sosial X.
"Tidak boleh ada serangan apa pun dari atau terhadap pembangkit listrik tersebut," kata Kepala IAEA Rafael Grossi.
Grossi mengingatkan risiko besar yang dipertaruhkan dari tindakan agresif terhadap instalasi nuklir di wilayah konflik.
"Menyerang situs nuklir sama seperti bermain ia," imbuhnya.
Pihak Rusia melalui perusahaan tenaga nuklir negara, Rosatom, langsung melemparkan tuduhan kepada Ukraina atas insiden ini. Rosatom mengklaim drone dikendalikan lewat kabel serat optik untuk memastikan akurasi sasaran.
"Hari ini, kita selangkah lebih dekat dengan insiden yang sangat mungkin akan memengaruhi bahkan mereka yang tinggal jauh di luar perbatasan Rusia dan Ukraina," kata CEO Rosatom Alexei Likachev.
Pemerintah Ukraina menolak keras tuduhan sepihak tersebut dengan menyatakan bahwa narasi Rusia tidak masuk akal. Kementerian Luar Negeri Ukraina menegaskan tidak ada alasan logis bagi mereka untuk menghancurkan infrastruktur milik sendiri yang sedang diupayakan untuk direbut kembali.
"Tidak jelas mengapa Ukraina akan menyerang pembangkit listrik tenaga nuklirinya sendiri yang terletak di wilayahnya sendiri, yang ingin mereka rebut kembali di bawah kendali kedaulatannya," kata Kementerian Luar Negeri Ukraina.
Pihak Kyiv menilai tuduhan sabotase ini sengaja diembuskan oleh Moskow sebagai bagian dari perang urat syaraf di ruang publik.
"Kami menganggap pernyataan ini sebagai operasi informasi lain oleh negara pendudukan," sambungnya.
Sebelumnya, otoritas pendudukan Rusia di Zaporizhzhia juga sempat menuduh Ukraina meluncurkan serangan yang menewaskan seorang pekerja transportasi pada April lalu. Sejak pasukan Rusia merebut Kyiv pada tahun 2022, kedua negara bertikai ini tercatat sudah berulang kali saling melempar tuduhan terkait ancaman bencana nuklir di lokasi tersebut.