Drag race Kotamobagu menewaskan 8 orang setelah menabrak pagar

Share

Delapan orang tewas dan sembilan lainnya luka akibat insiden drag race yang kehilangan kendali lalu menabrak pagar pembatas di Kotamobagu, Sulawesi Utara. Peristiwa terjadi di Jalan AP Mokoginta, Kecamatan Kotamobagu Timur, saat Turnamen Tidar Drag Race Championship 2026 sedang berlangsung, menurut Polres Kotamobagu dan laporan Detik Oto.

Insiden terjadi pada Minggu 9/8 sekitar pukul 15.50 Wita, ketika dragster Tian Ngantung dari Tim Mc Joe masuk posisi start untuk kelas FFA (Free For All), dilansir dari Detik Oto.

Plt Kasi Humas Polres Kotamobagu AKP Joko Setiyono mengatakan insiden bermula ketika mobil mengalami masalah saat memasuki titik finis sirkuit, dilansir dari Detik Oto.

"Namun, saat memasuki titik finis sirkuit, mobil tersebut mengalami masalah," kata Plt Kasi Humas Polres Kotamobagu AKP Joko Setiyono.

AKP Joko Setiyono menjelaskan mobil kemudian oleng ke sisi kiri lintasan dan menabrak pagar pembatas sirkuit, hingga warga yang menonton di sekitar area tertabrak.

"Ketika mobil yang dikendarai oleng ke sisi kiri sirkuit, mobil menabrak warga yang menonton di pagar pembatas sebelah kiri titik finis area sirkuit," beber AKP Joko Setiyono.

Laporan Detik Oto menyebut total ada 17 korban, dengan delapan orang meninggal dunia dan sembilan lainnya mengalami luka.

Seorang praktisi keselamatan berkendara dari IMI, Erreza Hardian, menilai aspek keselamatan atau safety acara menjadi perhatian karena balapan melibatkan kecepatan dan penonton berada di area yang berpotensi terkena dampak kendaraan.

"Drag race itu jelas melibatkan kecepatan, kemudian ada penonton yang rentan berada di jalan dan sepertinya itu jalan aspal yang mulus, itu juga lurus serta kendaraan jelas sudah ada modifikasinya," kata Erreza Hardian.

Erreza menyatakan pengemudi dan penyelenggara yang dianggap profesional oleh penonton bisa tidak sesuai dengan kondisi nyata, sehingga risiko tidak terlihat oleh orang di sekitar lokasi.

"Jadi inilah yang memicu banyak korban. Wajar para penonton tidak melihat bahaya di situ apalagi ada risikonya," ujar Erreza Hardian.

Erreza juga mempertanyakan profesionalisme tim dan peserta terkait perspektif bahaya, termasuk pengaruh traksi pengereman serta setelan steering dan suspensi terhadap kendaraan dan jalan aspal.

"Tim dragnya apakah sudah melihat ada perspektif bahaya selain dari prestasi dan juara juga teknis tentang kendaraan serta jalan aspalnya yang mempengaruhi berbagai hal, traksi pengereman, steering dan suspensi," ujar Erreza Hardian.

Ia menambahkan bahwa perlombaan balap semacam ini sebenarnya memiliki aturan ketat, lengkap mulai dari petugas hingga penyelenggara, termasuk diklat dan ujian sertifikasi serta sanksi bila ada pelanggaran, menurut Erreza.

"Ini lengkap pasti, dari mulai petugas sampai ke penyelenggara ada diklat dan ujian sertifikasinya, baik ke personel maupun perusahaan penyelenggaranya. Semua diatur secara ketat bahkan sebelum, selama bahkan sesudahnya, termasuk sanksinya," sambung Erreza Hardian.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author