DPR Soroti Fenomena Sekolah Dasar Negeri Kekurangan Siswa Baru
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mendesak pemerintah untuk mencermati secara serius fenomena sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di berbagai daerah yang kekurangan murid pada tahun ajaran baru, Jumat (17/7/2026).
Kondisi sepinya peminat di sejumlah sekolah dasar plat merah tersebut salah satunya dilansir dari Detikcom, di mana beberapa SDN di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur hanya mendapatkan satu hingga tiga orang siswa baru.
"Fenomena sejumlah SD negeri yang hanya menerima satu hingga beberapa siswa baru memang menjadi perhatian kami. Dari berbagai laporan yang kami terima, kondisi ini terjadi di sejumlah daerah, meski tidak bersifat nasional," kata Hetifah kepada wartawan, Jumat (17/7/2026).
Menurut politisi tersebut, persoalan ini tidak merata karena di daerah lain justru ada sekolah yang mengalami penumpukan pendaftar.
"Di sisi lain, masih banyak sekolah yang justru kelebihan peminat. Ini menunjukkan adanya ketimpangan distribusi peserta didik yang perlu dicermati secara serius," ucap Hetifah.
Faktor demografi berupa penurunan jumlah anak usia sekolah di beberapa wilayah serta adanya kesenjangan kualitas antarlembaga pendidikan dinilai menjadi pemicu utama keengganan orang tua mendaftarkan anak mereka ke SDN tertentu.
"Selain adanya perubahan demografi yang membuat jumlah anak usia sekolah mulai menurun di beberapa wilayah, juga terdapat kesenjangan mutu antarsekolah. Masyarakat tentu cenderung memilih sekolah yang dinilai memiliki kualitas pembelajaran, fasilitas, dan prestasi yang lebih baik. Di saat yang sama, banyak sekolah swasta kini semakin kompetitif dengan menawarkan program unggulan dan layanan yang menarik bagi orang tua," ucap Hetifah.
Guna mengatasi persoalan ini secara jangka panjang, reformasi kebijakan penerimaan murid baru saja dianggap tidak akan cukup tanpa dibarengi langkah konkret dari pemerintah.
"Pemerintah perlu mempercepat pemerataan kualitas pendidikan, memperkuat sekolah-sekolah yang kurang diminati, serta melakukan perencanaan berbasis data kependudukan dan proyeksi jumlah anak usia sekolah. Dengan demikian, penataan jumlah sekolah, rombongan belajar, distribusi guru, hingga pembangunan satuan pendidikan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran," ucap Hetifah.
Legislator tersebut menegaskan bahwa pemerataan layanan pendidikan berkualitas mutlak dilakukan agar masyarakat tidak lagi terpaku pada sekolah-sekolah favorit tertentu saja.
"Kepercayaan masyarakat terhadap seluruh satuan pendidikan harus dibangun melalui peningkatan kualitas yang nyata, sehingga tidak terjadi lagi kesenjangan yang terlalu lebar antara sekolah yang sangat diminati dan sekolah yang kekurangan murid," ujar Hetifah.
Di lapangan, salah satu sekolah yang mengalami kondisi ini adalah SDN Purwoyoso 01 di Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah yang hanya kedatangan tiga orang murid baru.
"Yang mendaftar online ada lima. Tapi dua tidak daftar ulang, jadi yang fix masuk hanya tiga siswa," kata Kepala SDN Purwoyoso 01 Kota Semarang, Hajar Riatiani, dilansir Detikcom, Senin (13/7/2026).
Meski jumlah peserta didik sangat minim, pihak sekolah tetap berupaya memberikan sambutan hangat bagi para siswa baru tersebut melalui kegiatan pengenalan lingkungan sekolah.
"Berapa pun muridnya, tetap kita sambut dengan meriah. Setiap tahun kita ganti tema. Kali ini temanya sirkus, ada badutnya juga," tegas Hajar.
Kondisi lebih ekstrem terjadi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, di mana SDN 2 Cepokosawit di Kecamatan Sawit hanya memiliki satu orang siswa baru bernama Khanza pada tahun ajaran ini.
"Ya awalnya merasa, apa ya, minder ada. Tapi balik lagi, kita harus, seberapa pun muridnya, harus tetap semangat, kita layani sebaik-baiknya," kata guru kelas 1 SDN 2 Cepokosawit, Andiyani Mudrikah, Senin (13/7/2026).
Pihak guru di sekolah tersebut bertekad tetap memberikan dedikasi penuh dalam mengajar meski hanya menghadapi satu orang murid di dalam kelas.
"Jadi harus optimal juga untuk mengajarnya," ujar Andiyani.
Sementara itu, di SDN 2 Plandaan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, jumlah siswa baru yang diterima juga sangat minim yakni hanya dua orang siswa, yang salah satunya terlambat datang pada hari pertama sekolah.
"Ngapunten terlambat, wonten tamu niki wau (maaf terlambat, tadi masih ada tamu)," kata nenek dari salah satu siswa baru bernama Candra Mohammad Saputra saat mengantar cucunya terlambat ke sekolah, Senin (13/7/2026).