DPR Minta Penyelidikan Tuntas Kebakaran Hutan Bromo Tengger Semeru
Anggota Komisi IV DPR RI Rajiv mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum mengusut tuntas penyebab kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang terjadi sejak Senin (3/8/2026), dilansir dari Detikcom. Insiden kebakaran karhutla tersebut dikhawatirkan merusak ekosistem kawasan konservasi, mengganggu aktivitas pariwisata, serta mengancam kehidupan warga di sekitar Gunung Bromo. "Selain tujuan wisata, TNBTS tapi juga merupakan kawasan konservasi yang kaya dengan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun, saya khawatir kebakaran ini akan menghancurkan kawasan konservasi tersebut," tegas Rajiv dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8/2026).
Rajiv menekankan bahwa langkah pemadaman titik api harus ditindaklanjuti dengan investigasi menyeluruh. Pembuktian berbasis bukti diperlukan untuk mengungkap asal titik api, kondisi cuaca, hingga aktivitas warga di lokasi kejadian.
"Pemadaman menjadi prioritas saat ini, tetapi setelah kondisi terkendali harus ada investigasi yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan, darimana titik awal munculnya api, aktivitas di sekitar lokasi, kondisi cuaca, serta berbagai kemungkinan penyebab lainnya harus diperiksa berdasarkan bukti," katanya. Di samping dorongan investigasi, Rajiv memberikan apresiasi kepada tim gabungan yang bekerja keras memadamkan api di tengah medan yang sulit.
"Penghargaan yang setinggi-tingginya patut diberikan kepada seluruh petugas gabungan, mulai dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, BPBD, BNPB, Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, petugas pemadam kebakaran, relawan, hingga masyarakat sekitar yang telah bekerja keras mengendalikan api," ujar politisi partai NasDem ini. Penyelidikan mendalam dinilai mutlak untuk memastikan apakah kebakaran dipicu oleh faktor alam, kelalaian, atau unsur kesengajaan manusia demi penerapan sanksi hukum yang tegas.
"Tidak boleh ada pembiaran apabila ditemukan unsur kesengajaan atau kelalaian. Kawasan Bromo merupakan aset ekologis dan pariwisata nasional. Setiap tindakan yang merusaknya harus dipertanggungjawabkan," tegas Rajiv.
Jika hasil evaluasi menunjukkan kebakaran dipicu faktor alam, Rajiv meminta penanganan ke depan fokus pada penguatan sistem pencegahan dini secara berkelanjutan. "Peristiwa ini harus menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola pencegahan kebakaran di kawasan Bromo, jangan sampai perhatian hanya besar ketika api sedang menyala, kemudian menghilang setelah kebakaran berhasil dipadamkan," lanjutnya.
Pemerintah juga didorong untuk segera mendata total kerusakan ekologis dan menyusun program pemulihan kawasan pascabencana.
"Kawasan terdampak harus dipulihkan, pelajaran dari kebakaran ini harus diterjemahkan menjadi sistem pencegahan yang lebih kuat agar kejadian serupa tidak terus berulang," pungkas Rajiv.