DPR Minta Kemenkes Tangani Dampak Kesehatan Gempa NTT

Share

Komisi IX DPR RI mendesak Kementerian Kesehatan segera menerjunkan tim medis dan bantuan pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur pada Selasa (18/8/2026). Penanganan tak hanya berfokus pada fisik, tetapi juga kesehatan mental pengungsi.

Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini menyatakan kewaspadaan tinggi diperlukan terhadap lonjakan penyakit di lokasi pengungsian, sebagaimana dilaporkan dari Detikcom. Berbagai keluhan fisik hingga depresi dinilai rentan melanda para korban.

"Saya menyampaikan dukacita dan keprihatinan yang mendalam atas musibah gempa bumi yang terjadi di Flores NTT. Perlu diwaspadai penyakit yang timbul akibat gempa bumi berkaitan erat dengan kondisi lingkungan di tempat pengungsian," kata Yahya Zaini, Wakil Ketua Komisi IX DPR.

Yahya mengidentifikasi ancaman infeksi hingga depresi berpotensi menyerang warga di pos penampungan.

"Penyakit utama yang sering muncul akibat gempa bumi, antara lain, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, penyakit kulit, leptospirosis, gangguan lambung dan gangguan mental akibat stres," ujar Yahya Zaini, Wakil Ketua Komisi IX DPR.

Pemerintah diseru berkoordinasi cepat guna memenuhi kebutuhan obat-obatan dan staf medis di lapangan.

"Mendesak Kemenkes untuk turun tangan dengan mengirim tenaga medis dan tenaga kesehatan serta alkes yang diperlukan ke NTT guna meringankan beban masyarakat yang tertimpa musibah," ungkap Yahya Zaini, Wakil Ketua Komisi IX DPR.

Penanganan terhadap korban luka reruntuhan fisik bangunan turut diprioritaskan.

"Korban gempa perlu penanganan segera terutama yang luka-luka berat dan ringan akibat reruntuhan bangunan. Kemenkes perlu kerjasama dan berkoordinasi dengan pemda setempat untuk memastikan bantuan kesehatan dapat diberikan dan berjalan dengan lancar," sambung Yahya Zaini, Wakil Ketua Komisi IX DPR.

Selain cedera fisik, potensi depresi dan stres di area pengungsian minim sarana menjadi sorotan utama Komisi IX.

"Yang tak kalah pentingnya menjaga kesehatan mental warga masyarakat akibat stres sebagai dampak dari musibah gempa karena kondisi yang serba kekurangan, terutama bagi warga ditempat pengungsian," papar Yahya Zaini, Wakil Ketua Komisi IX DPR.

Pengerjaan trauma healing secara profesional disarankan langsung menyasar kawasan terdampak.

"Tenaga medis seperti psikiater dan tenaga ahli psikolog perlu diturunkan ke lapangan untuk mengatasi kondisi stres yang dialami warga yang terdampak gempa bumi," lanjut Yahya Zaini, Wakil Ketua Komisi IX DPR.

Ketersediaan fasilitas sanitasi darurat dan pemenuhan air bersih juga mendesak guna mencegah penularan penyakit menular.

"Bantuan untuk sanitasi dan air bersih perlu diperhatikan agar warga terhindar dari berbagai macam penyakit akibat kondisi lingkungan yang tidak sehat sehingga menyebabkan warga masyarakat mudah terserang penyakit," tutur Yahya Zaini, Wakil Ketua Komisi IX DPR.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat total pengungsi akibat bencana alam ini menembus angka 40 ribu jiwa, dengan konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kabupaten Manggarai Timur.

"Data sementara pengungsi yang sementara ini kami kumpulkan, ada 40.040 jiwa, ini bukan menggambarkan kerusakan rumah, jadi perlu kita hati-hati menerjemahkannya, namun ini karena dampak psikologis yang dirasakan warga," kata Berton SP Panjaitan, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Data wilayah Manggarai Timur menunjukkan 966 orang ditampung di posko BPBD dan 14 ribu warga memilih mengungsi mandiri, dengan total 15.465 jiwa pengungsi. Angka korban meninggal dunia di daerah tersebut mencapai 25 orang, 442 orang luka berat, serta 513 orang luka ringan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author