DPR Desak Usut Kasus Satpam Waduk Jatiluhur Tewas Terborgol
Anggota Komisi III DPR RI Lola Nelria mendesak kepolisian mengusut tuntas kasus tewasnya satpam Waduk Jatiluhur, Sumarna (42), yang ditemukan dengan kondisi tangan terborgol di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dilansir dari Detikcom pada Kamis (30/7/2026).
Jasad Sumarna ditemukan di tepi danau kawasan Tanggul Ubrug pada Jumat (24/7) siang. Korban masih mengenakan seragam dinas lengkap saat ditemukan berada dalam kondisi mengenaskan dengan kedua tangan terborgol ke belakang.
Politikus Partai NasDem tersebut menyampaikan rasa duka yang mendalam serta menegaskan bahwa peristiwa penemuan jenazah petugas keamanan ini harus ditangani secara serius oleh aparat penegak hukum.
"Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum Sumarna. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi musibah ini," kata Lola.
Ia menekankan pentingnya pengusutankasus secara terbuka agar tidak menimbulkan preseden buruk dalam penegakan hukum.
"Kasus meninggalnya seorang petugas keamanan dengan kondisi kedua tangan terborgol merupakan peristiwa yang sangat memprihatinkan dan tidak boleh dipandang sebagai perkara biasa," kata Lola.
Lola juga menyoroti dugaan awal mengenai keterlibatan kelompok tertentu dalam insiden mematikan tersebut, sembari mengingatkan pentingnya asas hukum yang berlaku.
"Apalagi hingga saat ini muncul berbagai dugaan, termasuk dugaan keterlibatan kelompok geng motor, yang masih dalam proses penyelidikan oleh kepolisian. Karena itu, kita harus menghormati asas praduga tak bersalah dan menyerahkan penetapan pelaku sepenuhnya berdasarkan alat bukti yang sah," ujarnya Lola.
Penyelidikan yang transparan dan cepat dinilai sangat krusial agar seluruh dalang di balik peristiwa ini dapat diseret ke jalur hukum.
"Saya mendorong untuk mengusut kasus ini secara profesional, transparan, dan secepat mungkin. Seluruh fakta harus diungkap, mulai dari kronologi kejadian, motif, hingga siapa pun yang bertanggung jawab," ujarnya Lola.
Penanganan kasus ini dianggap berpotensi memengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap keadilan sosial.
"Jangan sampai ada ruang bagi pelaku untuk lolos dari proses hukum, karena hal ini menyangkut rasa keadilan masyarakat dan kepercayaan publik terhadap penegakan hukum," sambungnya Lola.
Sikap tegas dinilai perlu diambil oleh negara jika terbukti ada unsur kejahatan terorganisir di balik insiden ini.
"Apabila nantinya terbukti terdapat keterlibatan kelompok kriminal atau geng motor, maka penindakan harus dilakukan secara tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Negara tidak boleh kalah terhadap aksi-aksi kekerasan yang mengancam keselamatan masyarakat maupun aparat keamanan," ujarnya Lola.
Kejadian tragis ini dinilai menjadi sinyal penting untuk membenahi perlindungan dan keamanan di area objek vital nasional.
"Peristiwa ini juga menjadi momentum evaluasi terhadap sistem pengamanan objek-objek vital, termasuk kecukupan sarana pengawasan seperti CCTV, prosedur keamanan, dan perlindungan bagi petugas keamanan yang menjalankan tugasnya di lapangan. Pencegahan harus diperkuat agar kejadian serupa tidak kembali terulang," tuturnya Lola.
Saat ini kepolisian masih melakukan penyelidikan intensif dan telah menggelar perkara untuk memburu pelaku.
Sementara itu, Direktur Utama Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur Imam Santoso mengonfirmasi ketersediaan sarana pengawas di area kerja korban, meski titik lokasi kejadian tidak berada dalam jangkauan pemantauan langsung.
"Bukan tidak ada CCTV, total ada 27 unit CCTV yang tersebar di titik-titik strategis Waduk Jatiluhur. Di kawasan Ubrug sendiri ada tiga unit, dan rekamannya sudah kami serahkan ke pihak kepolisian," ujar Imam Santoso saat melayat ke rumah duka korban pada Kamis (30/7/2026).