DPR dan Otoritas Bursa Bahas Regulasi Penguatan Investor Global
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sufmi Dasco Ahmad menggelar diskusi bersama pengelola Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta pada Selasa (19/5/2026). Pertemuan ini dilakukan guna membahas langkah strategis dalam menarik serta mempertahankan minat investasi dari investor global maupun retail.
Langkah koordinasi tersebut diambil setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan signifikan sebesar 2,32 persen ke posisi 6.567,44 pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026). Penurunan tajam ini dipengaruhi oleh kombinasi dinamika pasar dalam negeri serta guncangan yang terjadi di pasar keuangan global.
Pihak DPR bersama otoritas pasar modal berupaya merumuskan formula terbaik untuk menjaga stabilitas pasar. Fokus utama pembicaraan tersebut tertuju pada penguatan posisi para pelaku pasar yang bergerak di bursa domestik saat ini.
"Kami tadi sudah banyak berdiskusi tadi di atas, bagaimana kita meyakinkan untuk menguatkan investor global yang akan masuk di bursa dan sedang di bursa," ucap Dasco, dipantau dari Breaking News Kompas TV.
Selain menyasar pemodal asing, pembahasan ini juga menyoroti pentingnya peran masyarakat lokal dalam struktur pasar modal nasional. Pertumbuhan jumlah pelaku pasar domestik dinilai memerlukan dukungan regulasi yang berkesinambungan.
"Kami juga banyak berdiskusi bagaimana kemudian investor retail yang ada terus tumbuh dan berkembang."
Dalam pertemuan itu, manajemen BEI memaparkan sejumlah rencana strategis terkait pembenahan aturan main di pasar modal. Dasco menyebutkan bahwa penyempurnaan regulasi ini bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan kenyamanan bertransaksi.
"Kemudian kami mendengarkan paparan dari pengelola bursa, bagaimana mereka kemudian menyempurnakan regulasi-regulasi yang bisa kemudian meyakinkan dan juga kemudian membuat para investor lokal merasa nyaman," ucapnya.
Pihak legislatif memberikan dukungan penuh terhadap langkah-langkah perbaikan aturan yang diinisiasi oleh pengelola bursa. Evaluasi terhadap kekuatan fundamental ekonomi nasional memicu optimisme bahwa kinerja bursa saham akan segera pulih.
"Tadi kita lihat pertumbuhan investor lokal atau retail terus bertambah dan itu kemudian dengan fundamental yang ada, kita yakin dan perceive bursa kita ke depan akan semakin kuat," ujar Dasco.
Pemerintah dan otoritas terkait menetapkan target waktu jangka pendek untuk melihat dampak nyata dari penyesuaian kebijakan ini. Seluruh upaya pembenahan regulasi diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi pergerakan indeks dalam beberapa waktu ke depan.
"Mudah-mudahan kita akan melihat hasilnya setelah tanggal 29 (Mei) ini, semua yang dilakukan atas kerja keras dan niat baik ini akan membuahkan hasil."
Apresiasi juga diberikan kepada jajaran regulator yang terus mengawal pasar di tengah situasi yang tidak menentu. Gejolak eksternal dan internal diakui memberikan tekanan berat bagi para pengambil kebijakan dalam menjaga stabilitas bursa domestik.
"Terima kasih atas kerja keras dari direksi bursa maupun OJK yang beberapa hari ini telah bersusah payah kemudian menghadapi situasi yang disebabkan oleh pasar global maupun dinamika di dalam negeri," ucapnya.
Sementara itu, pihak manajemen bursa menjelaskan bahwa penurunan indeks merupakan dampak akumulatif dari pergerakan pasar regional. Penutupan pasar domestik karena hari libur nasional pada pekan sebelumnya membuat tekanan jual terkumpul saat bursa kembali dibuka.
"Kalau kita melihat angka IHSG hari ini, pertama tentu ini karena pasar kita banyak ketidakpastian di pasar. Tetapi kita juga mencermati bahwa Kamis dan Jumat pasar Indonesia libur, sedangkan pasar global khususnya pasar Asia tetap buka," terang Jeffry kepada media termasuk jurnalis KompasTV, di Gedung BEI, Senin.
Jeffrey Hendrik selaku Pelaksana tugas Direktur Utama BEI menambahkan bahwa penurunan indeks di Indonesia sebenarnya masih sejalan dengan tren pelemahan global. Faktor geopolitik eksternal seperti konflik di Timur Tengah dan Rusia, serta fluktuasi nilai tukar rupiah turut menekan bursa saham.
"Nah, ditambah dengan sedikit lagi koreksi di hari ini, jadi sebenarnya koreksi kita hari ini in line dengan koreksi tiga hari yang ada di pasar global," ujarnya.