DPR AS Sahkan RUU Penghapusan Perubahan Waktu Musiman
Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mengesahkan Rancangan Undang-Undang Sunshine Protection Act pada 14 Juli 2026 melalui pemungutan suara dengan hasil 308-117. Regulasi ini bertujuan menjadikan Waktu Musim Panas atau Daylight Saving Time berlaku permanen dan menghapus ritual penyesuaian jam dua kali setahun di seluruh negeri.
Langkah legislatif tersebut berpotensi mengubah pola waktu musim dingin di berbagai negara bagian secara signifikan. Apabila aturan ini diberlakukan, masyarakat Amerika Serikat tidak perlu lagi memundurkan jarum jam satu jam pada 1 November mendatang sebagaimana yang telah dijalankan sejak 1916.
Meskipun telah disetujui di tingkat DPR, nasib akhir dari RUU ini berada di tangan Senat AS yang saat ini masih dalam masa reses hingga 14 September. Dukungan politik terus mengalir dari berbagai pihak, termasuk dari Presiden Donald Trump yang mendesak para senator untuk memuluskan pengesahan aturan tersebut.
Melalui unggahan di media sosial Truth Social pada 4 Agustus, Trump menyatakan dukungannya terhadap perubahan sistem penanggalan waktu nasional tersebut.
"Praktik ini bodoh, tidak praktis, dan dalam beberapa kasus sangat merugikan," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Ia menegaskan bahwa masyarakat sudah lelah dengan kewajiban mengubah jam setiap tahun dan menyebut keberadaan waktu malam yang lebih terang membawa banyak manfaat.
"Dengan kata lain, biarkan seperti sekarang, dan jangan pernah diubah lagi. Mari kita sahkan Sunshine Protection Act secepatnya," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Namun, kepastian pengesahan di tingkat Senat masih belum menemui titik terang. Pemimpin Mayoritas Senat John Thune mempertanyakan apakah dukungan di kalangan senator sudah mencukupi sebelum memasuki perubahan waktu musim gugur.
Penolakan juga datang dari sejumlah politisi yang mengkhawatirkan dampak terbitnya matahari yang menjadi sangat lambat saat musim dingin. Senator asal Arkansas Tom Cotton menilai bahwa penambahan waktu terang di sore hari memberikan gambaran yang terlalu optimistis.
"Dengan memundurkan jam satu jam di musim dingin, DST permanen akan mendorong matahari terbit di musim dingin ke jam yang sangat terlambat, merampas sinar matahari pagi yang sangat penting bagi keselamatan dan kesejahteraan warga Amerika," kata Tom Cotton, Senator Arkansas.
Dampak ekonomi dan kesehatan juga menjadi perdebatan hangat di tengah masyarakat. Perwakilan dari pelaku industri olahraga menilai penambahan waktu terang di sore hari mampu memicu pergerakan ekonomi yang signifikan.
CEO National Golf Course Owners Association Jay Karen memaparkan potensi keuntungan ekonomi bagi sektor outdoor dalam kesaksiannya di hadapan komite Senat.
"Riset kami menemukan bahwa menyesuaikan sinar matahari dengan waktu luang warga Amerika, tidak sekadar menambah durasi tetapi menempatkannya saat warga benar-benar bisa memanfaatkannya, dapat menciptakan lebih dari 23 juta putaran golf tambahan dan aktivitas ekonomi bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS setiap tahunnya," kata Jay Karen, CEO National Golf Course Owners Association.
Ia menambahkan bahwa perpanjangan waktu terang di sore hari turut meningkatkan aktivitas wisata dan ekonomi lokal.
"Lebih banyak sinar matahari di sore hari berarti lebih banyak kesempatan bagi warga Amerika untuk bermain, berolahraga, terhubung dengan keluarga dan teman, serta menikmati alam terbuka," kata Jay Karen, CEO National Golf Course Owners Association.
Sebaliknya, pakar kesehatan dan pakar tidur menilai bahwa mempertahankan Waktu Standar permanen merupakan pilihan yang jauh lebih sehat bagi tubuh manusia. Profesor biologi dan neurosains dari Washington University di St. Louis Erik Herzog menjelaskan keterkaitan antara jam biologis dan sinar matahari pagi.
Ia menegaskan bahwa jam biologis alami manusia dibentuk oleh cahaya matahari di pagi hari.
"Waktu standar permanen akan menjadi opsi yang paling sehat," kata Erik Herzog, Profesor Biologi dan Neurosains Washington University.
Dampak terhadap jadwal ibadah keagamaan juga disuarakan oleh tokoh komunitas Yahudi dan Muslim. Rabbi Josh Joseph mewakili Orthodox Union menyoroti kendala waktu pelaksanaan ibadah pagi jika matahari terbit terlalu lambat di musim dingin.
Di tingkat publik, suara masyarakat terbelah. Jajak pendapat YouGov pada 2023 menunjukkan 62 persen warga mendukung penghapusan perubahan jam. Sementara itu, survei Gallup pada Januari 2025 mencatat 54 persen warga ingin mengakhiri praktik tersebut, meski terbagi antara memilih DST permanen atau Waktu Standar permanen.
Sektor usaha lain turut memberikan pandangan beragam terkait efisiensi penyesuaian waktu ini. Anggota DPR AS Gus Bilirakis menilai aturan lama sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman.
"Perubahan jam di Amerika adalah peninggalan masa lalu yang tidak lagi mencerminkan cara hidup, cara kerja, dan cara berbisnis warga Amerika di abad ke-21," kata Gus Bilirakis, Anggota DPR AS.
Pemerintah AS sempat menerapkan sistem DST permanen pada tahun 1974 di bawah pemerintahan Presiden Richard Nixon, namun kebijakan tersebut segera dicabut kembali akibat tingginya keluhan publik terkait kondisi pagi hari yang terlalu gelap.
Apabila Senat tidak mengambil tindakan sebelum masa reses berakhir, seluruh negara bagian AS—kecuali Hawaii, sebagian besar Arizona, serta wilayah teritorial seperti Puerto Riko dan Guam—tetap diwajibkan memundurkan jam satu jam pada 1 November 2026 pukul 02.00 waktu setempat.