Donald Trump Gunakan Krisis Migran Ceuta untuk Kepentingan Politik AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggunakan krisis migran di Ceuta, kota otonom Spanyol di Afrika Utara, sebagai peringatan politik bagi AS mengenai risiko migrasi massal jika lawan politiknya berkuasa, Sabtu (1/8/2026), dilansir dari Detikcom.
Menurut otoritas Spanyol, lebih dari 50.000 migran ilegal mencoba menyeberangi perbatasan melalui jalur darat dan laut dalam beberapa hari terakhir. Sebagian besar telah kembali ke Maroko secara sukarela. Namun, sedikitnya 57 jenazah ditemukan di sisi perbatasan Spanyol, dengan kemungkinan korban tambahan di sisi Maroko akibat tenggelam dan kecelakaan saat mencoba memasuki Ceuta, menurut laporan Reuters dan Anadolu Agency.
Trump menyebut situasi di Ceuta "mengerikan" dan "seperti sebuah invasi".
"Itu mengerikan. Ingatlah gambar tersebut. Seperti itulah nasib kita dalam tiga tahun ke depan jika pihak yang salah berkuasa," ujar Trump, dilansir dari Fox News dan AFP.
Dia memperingatkan bahwa jika Partai Demokrat memerintah, kehidupan warga AS tidak akan baik.
"Jika Partai Demokrat yang berkuasa, Anda tidak akan memiliki kehidupan yang sangat baik," ucap Trump.
Ketika menghadiri rapat kabinet di Camp David, Maryland, pada Jumat (31/7), Trump menyatakan risiko krisis serupa bisa terjadi di wilayah pesisir AS.
"Saya melihat situasi Spanyol kemarin, dan saya menyaksikan bencana yang terjadi di sana," ujar Trump.
"Itu tampak seperti sebuah invasi ke suatu negara oleh ratusan ribu orang, dan hal yang sama akan terjadi pada kita jika Partai Republik tidak terpilih, bahkan lebih buruk dan dalam skala yang jauh lebih besar," tambahnya.
Wakil Presiden AS JD Vance juga memberikan komentarnya melalui media sosial X dengan memperingatkan bahwa krisis ini menunjukkan "kebijakan globalis sayap kiri radikal yang telah memicu invasi terhadap Barat".
"Gambar-gambar dari Spanyol ini menjadi pengingat yang menyedihkan akan konsekuensi dari migrasi massal," kata Vance.
Gedung Putih dalam pernyataan terpisah mengaitkan situasi di Ceuta dengan kebijakan keras imigrasi yang diusung Trump di dalam negeri.
Jajak pendapat menunjukkan dukungan Trump turun ke 30 persen, sementara Partai Demokrat berusaha merebut kendali DPR pada pemilu sela November mendatang. Krisis migran ini menjadi peluang bagi Partai Republik mengangkat isu imigrasi kembali.
Kemenangan Trump dalam pilpres 2024 sebagian didorong oleh kekhawatiran pemilih terhadap migrasi tak terkendali di perbatasan AS-Meksiko. Saat itu, Trump memperingatkan migran datang untuk membunuh warga Amerika dan memangsa hewan peliharaan mereka.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS menyalahkan kebijakan pemerintah Spanyol atas krisis migran di Ceuta.
"Insiden yang tidak dapat diterima ini merupakan akibat langsung dari upaya sengaja pemerintah Spanyol untuk memungkinkan dan memfasilitasi migrasi ilegal massal ke Eropa," ungkap pernyataan Departemen Luar Negeri AS.