Donald Trump Ancam Bom Iran Lebih Parah Usai Serang Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan meluncurkan pengeboman yang lebih parah terhadap Iran jika negara tersebut terus menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz pada Rabu (8/7) waktu setempat.
Langkah tegas ini diambil Trump setelah memerintahkan gelombang serangan udara terbaru yang menargetkan sejumlah titik di pesisir selatan Iran, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Komando Pusat AS mengonfirmasi serangan tersebut, yang kemudian memicu pemadaman listrik di beberapa kota pelabuhan seperti Bandar Abbas, Konarak, dan Chabahar akibat ledakan.
Trump memberikan peringatan keras melalui media sosial mengenai konsekuensi yang akan dihadapi Teheran jika tindakan agresif di jalur pelayaran vital itu kembali terulang.
"Ini adalah balasan atas pengeboman kapal-kapal yang dilakukan Iran kemarin. Jika hal itu terjadi lagi, serangannya akan jauh lebih parah!" kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut dipertegas kembali oleh Trump di hadapan jurnalis saat berada di dalam pesawat kepresidenan Air Force One dalam penerbangan pulang dari KTT NATO di Ankara, Turki.
"Kita baru saja menghantam mereka dengan sangat keras, dan saya mengatakan kita menghantam mereka dengan rasio 20 dibanding satu. Setiap kali mereka menyerang kita, kita akan membalas dengan 20 serangan. Dan kita telah melakukannya tadi malam," ujar Trump, Presiden Amerika Serikat.
Meski situasi memanas, Trump sempat menyatakan harapannya agar eskalasi militer ini dapat segera mereda dan menyatakan kesiapan untuk opsi negosiasi. Sebelum serangan dilancarkan, ia menyebut status gencatan senjata antara kedua negara telah berakhir, situasi yang memicu mediator dari Pakistan, Qatar, dan PBB mendesak adanya deeskalasi.
Pada Rabu tengah malam, Trump mengklaim bahwa perwakilan pihak Iran telah menghubunginya untuk membuka ruang komunikasi demi mencapai suatu kesepakatan.
Namun, Trump tidak merinci identitas pejabat Teheran yang menghubunginya dan menyatakan keraguannya terhadap efektivitas kesepakatan apa pun di masa depan karena menilai pihak lawan bersikap kurang stabil.