Dokter Laktasi Mengubah ASI Menjadi Perhiasan Kenangan Ibu
Perjalanan menyusui menjadi momen emosional yang penuh perjuangan bagi setiap ibu. Dilansir dari HaiBunda, kenangan indah tersebut kini bisa diabadikan dalam bentuk perhiasan ASI atau breastmilk jewelry.
Inovasi ini dipelopori oleh dr. Margaret Mutiaratirta Sugondo, IBCLC, CIMI, seorang konsultan laktasi yang mendirikan Mammary.id. Melalui akun Instagram @mammary.id, ia mengolah cairan ASI hingga elemen DNA menjadi perhiasan.
Ide pembuatan perhiasan ini muncul dari pengalaman pribadinya sendiri. Sebagai konsultan laktasi dan ibu yang menyusui selama tujuh tahun, ia memahami dinamika perjuangan para orang tua.
"Karena, pengalaman saya menjadi ibu menyusui selama 7 tahun lebih dan telah lama berkiprah di dunia ibu dan anak sebagai konsultan laktasi. Saya banyak berinteraksi dengan para ibu menyusui," kata dr. Margaret.
Proses laktasi sering kali diwarnai dengan berbagai tantangan fisik dan mental. Mulai dari fase awal menyusui hingga proses penyapihan, semuanya memerlukan komitmen besar.
"Banyak perjuangannya. Ada yang alamin mastitis, payudara bengkak, puting lecet, dan lainnya hingga masa penyapihan setelah 2 tahun," tutur dr. Margaret.
Momen-momen berharga tersebut mendorong dirinya untuk merintis usaha pembuatan perhiasan ASI pada tahun 2021, tepat saat pandemi COVID-19 melanda.
"Kebetulan, aku sendiri pun merasa proses menyusui itu sangat indah jadi perlu banget untuk diabadikan," ujar dr. Margaret.
Selain ASI, Mammary.id juga mengawetkan kenangan dari material lain. Di antaranya adalah rambut, tali pusar, gigi, bedong bayi, topi, hingga alat tes kehamilan.
"Bagi beberapa orang, semua itu mungkin tampak aneh untuk diawetkan, tapi tentu tidak bagi si ibu, apalagi jika itu merupakan bagian dari bayi dan dirinya yang penuh dengan kenangan. Perhiasan ASI membuat ibu bisa membawa berbagai kenangan itu ke manapun ia pergi dan kapan pun," tambah dr. Margaret.
Proses pembuatan perhiasan ini mengandalkan prinsip kimia dan farmasi yang dipelajari dr. Margaret. Tahap utamanya berfokus pada pengawetan warna asli ASI.
"Yang kita lakukan itu sebenarnya adalah proses pengawetan. Jadi kalau ASI, yang kita preserve itu sebenarnya yang paling penting adalah warnanya. Banyak ibu-ibu yang tanya, 'Kalau ASI-nya sudah basi gimana, Dok?
Masih bisa dipakai enggak?' Nah, yang dimaksud basi itu kan memang sudah enggak boleh diminum bayi. Tapi kalau buat perhiasan, kita enggak melihat dari situ.
Yang kita lihat adalah warnanya sudah berubah atau belum," terangnya.
ASI yang sudah berjamur atau berubah warna menjadi kecokelatan dan kehitaman tidak dapat digunakan. ASI yang layak akan disterilkan lalu dikeringkan menjadi bubuk.
Serbuk ASI tersebut kemudian dicampur dengan resin khusus hingga mengeras. Proses pengerjaannya memakan waktu sekitar empat hingga enam minggu, tergantung tingkat kerumitan desain.
"Karena kadang ada yang minta dilukis pakai rambut, jadi rambutnya harus dimasukkan satu per satu. Atau misalnya mau dibuat pakai tali pusar, itu juga harus dibentuk sesuai desain tertentu," jelas dr. Margaret.
Simbol Perjuangan dan Kenangan Emosional
Di balik pembuatan perhiasan ASI, tersimpan berbagai kisah emosional dari para konsumen. Salah satunya datang dari seorang ibu yang bayinya dirawat di ruang NICU karena kelainan kongenital.
Meski terpisah, sang ibu terus memerah ASI demi kelangsungan hidup buah hatinya. Ia pun memutuskan untuk mengabadikan ASI tersebut menjadi perhiasan kenangan.
Sayangnya, bayi tersebut akhirnya meninggal dunia setelah berjuang keras. ASI perahan itu pun dipreservasi sebagai bentuk kenang-kenangan yang berharga.
"Bagi ibu tersebut, perhiasan ASI menjadi pengingat akan bayi yang pernah ia susui sekaligus simbol perjuangannya selama mendampingi sang anak di NICU," tutur dr. Margaret.
Bagi banyak orang tua, perhiasan dari ASI bukan sekadar perhiasan biasa. Kehadirannya menjadi pengingat konkret atas ikatan kasih sayang antara ibu dan anak.
"Sebagian besar ibu membuat perhiasan ASI sebagai cara untuk mengenang momen menyusui yang pernah mereka lalui bersama anak. Setiap tetes ASI menyimpan cerita, perjuangan, dan kasih sayang yang ingin terus mereka ingat," ungkapnya.
Beberapa ibu bahkan memilih material emas agar perhiasan ini bisa tahan lama. Mereka berniat mengwariskannya kepada sang anak di masa depan.
"Mereka ingin suatu hari nanti anaknya tahu, 'Ini adalah salah satu bentuk perjuangan Bunda saat membesarkanmu,'" pungkas dr. Margaret.