Dokter Jelaskan Istilah Medis Donati Sign Kasus Radang Usus Buntu

Share

Istilah medis 'donati sign' atau 'doughnut sign' menjadi perbincangan publik setelah muncul dalam penanganan kasus dugaan radang usus buntu seorang selebgram di Penang, Malaysia, Rabu (12/8/2026), seperti dilansir dari Detik Health.

Sorotan publik mengemuka usai sang influencer mengaku menerima diagnosis radang usus buntu sebanyak tiga kali di Indonesia hingga disarankan operasi, namun dinyatakan tidak bermasalah saat berobat ke Penang. Kasus tersebut turut memicu polemik mengenai diagnosis dokter di dalam negeri.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterohepatologi Mayapada Hospital, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH FINASIM menjelaskan bahwa istilah tersebut menandakan kondisi penebalan usus akibat proses peradangan. Fenomena gambaran medis pada bagian appendiks selebgram tersebut diketahui menunjukkan hasil positif di angka sekitar 8,1 mm.

"Donut sign pada USG di usus buntu menggambarkan adanya penebalan dari usus buntu sesuai dengan kriteria di atas," kata dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH FINASIM dari Mayapada Hospital.

Aru menambahkan bahwa kondisi normal pada organ pencernaan tidak akan memunculkan tanda penebalan tersebut jika tidak terjadi proses peradangan.

"Normalnya kalo tidak ada peradangan usus buntu biasanya tidak ada donut sign," kata Aru.

Terkilah mengenai langkah penanganan medis, Aru memaparkan bahwa prosedur operasi tidak selalu menjadi satu-satunya jalan keluar awal untuk mengatasi radang usus buntu. Penanganan pasien wajib disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi penyakit.

"Pada radang usus buntu yang ringan dan tanpa adanya komplikasi, penundaan operasi masih diperbolehkan dan beberapa tindakan seperti pemberian antibiotik intravena bisa mengurangi risiko pemberatan," kata Aru.

Meskipun demikian, Aru menegaskan bahwa tindakan bedah tetap menjadi metode utama untuk mencegah potensi masalah kesehatan berulang di masa mendatang.

"Tetapi tetap risiko kekambuhan dalam jangka panjang bisa terjadi daan tindakan operasi meripakan gold standard tatalaksana radang usus buntu," kata Aru.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author