Dewan Pers Dorong Media Massa Sajikan Berita Terverifikasi
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menekankan pentingnya verifikasi informasi oleh media massa guna melawan maraknya disinformasi. Hal itu disampaikannya pada acara Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah Tahun 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Tangerang Selatan, Kamis (13/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Komaruddin mengaitkan proses verifikasi dalam penerbitan berita dengan konsep tabayun yang dikenal dalam tradisi ajaran agama Islam.
"Berita itu dalam Islam punya tradisi untuk dilakukan tabayun, verifikasi," kata Komaruddin.
Ia menilai banyak informasi yang beredar saat ini merupakan kabar palsu atau disinformasi. Komaruddin mengklasifikasikan kondisi tersebut seperti tingkatan hadis dalam agama Islam.
"Dalam tradisi Islam, ada kitab hadis, diklasifikasi ada hadis mutawatir, hadis sahih, hadis dhaif, hadis palsu, itu ada klasifikasinya. Nah, berita hari ini banyaknya dhaif dan palsu. Banyak sekali disinformasi. Padahal masyarakat itu kebutuhan pada informasi layaknya kebutuhan pada udara dan air minum," katanya.
Tinggi angka disinformasi saat ini dinilai menjadi masalah lantaran konsumsi informasi masyarakat modern makin meningkat melalui telepon genggam.
"Begitu bangun tidur, yang dipegang bukan air minum, tetapi handphone. Menjelang tidur, yang dilihat bukan lagi cangkir kopi, tetapi handphone. Ketika rapat pun selingannya bukan minum, tetapi handphone.
Jadi betapa informasi itu telah menjadi kebutuhan melebihi kebutuhan pada angin dan juga air. Menjadi persoalan ketika informasi itu kemudian terpolusi, dan itu yang terjadi sekarang ini," jelasnya.
Melihat kondisi polusi informasi tersebut, Komaruddin meminta media massa untuk terus berperan memberikan pencerahan melalui konten berbobot.
"Maka keterlibatan, kehadiran, misalnya media-media seperti milik Muhammadiyah dan tokoh-tokoh lainnya di sini sangat bagus. Arahnya memberikan pencerahan, tetapi juga sekaligus memberikan bobot bahwa informasi yang beredar di masyarakat itu harus berkualitas. Dan itu penting sekali," ujar Komaruddin.
Ia menegaskan agar publik tidak langsung memercayai informasi yang beredar tanpa menelusuri kebenaran sumbernya terlebih dahulu.
"Makanya dalam tradisi kita itu selalu melihat siapa yang berbicara, dari mana sumbernya. Jadi jangan mudah percaya," imbuhnya.