Dewan Pakar Tetapkan Penerima Hoegeng Awards 2026

Share

Dewan Pakar telah merampungkan rapat krusial untuk menentukan sosok polisi teladan penerima Hoegeng Awards 2026. Penghargaan ini mencakup lima kategori berbeda bagi anggota kepolisian yang berprestasi.

Seperti dilansir dari Detikcom, nama-nama polisi terpilih bakal diumumkan secara resmi dalam malam puncak penghargaan. Agenda tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 10 Juli 2026.

Proses penilaian dan penentuan kandidat ini dilangsungkan di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada Senin, 29 Juni 2026. Penjurian melibatkan lima anggota Dewan Pakar dari berbagai latar belakang lembaga hukum dan sosial.

Para tokoh yang menjadi Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 meliputi Ketua Komisi III DPR Habiburokhman, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Wahid, dan Wakil Ketua Komnas HAM Putu Elvina. Selain itu, terdapat Mantan Plt Pimpinan KPK Mas Achmad Santosa serta anggota Kompolnas Gufron Mabruri.

Melalui rapat intensif tersebut, tim penilai telah mengantongi lima nama personel Korps Bhayangkara untuk tiap kategori yang dilombakan. Salah satu kategori bergengsi yang diperebutkan adalah Polisi Tapal Batas dan Pedalaman.

Anggota tim penilai menegaskan bahwa seluruh proses penyaringan kandidat berjalan secara objektif. Integritas dan independensi dewan dipastikan terjaga ketat tanpa adanya tekanan luar.

"Kita aja tidak bisa mengintervensi satu sama lain, jadi pasrah saja. Bagi siapapun yang merasa punya kepentingan mengintervensi kami, tidak akan mungkin bisa," kata Habiburokhman.

Mas Achmad Santosa turut menjamin track record seluruh anggota dewan juri bersih dari potensi pengaruh eksternal. Fokus utama tim hanyalah memunculkan keteladanan anggota kepolisian yang selama ini kurang tersorot.

"Saya bukan pertama kali (jadi Dewan Pakar Hoegeng Awards), udah 4-5 kali dan Ibu Alissa, Ibu Putu, kemudian Pak Habib dari Komisi III DPR dan dari Kompolnas, saya melihat tidak ada kepentingan apapun, kecuali kita betul-betul harus mengangkat polisi-polisi baik ini lebih dikenal masyarakat, lebih dikenal oleh pimpinannya, supaya yang baik itu harus didorong untuk dipromosikan dan menjadi contoh buat polisi-polisi lainnya," ucap Mas Achmad Santosa.

Alissa Wahid memperkuat pernyataan tersebut mengenai absennya praktik titip-menitip nama dalam proses seleksi. Pengumpulan basis data dilakukan secara proaktif dengan melibatkan masukan langsung dari publik di lapangan.

"Tidak ada intervensi sama sekali, tidak ada titipan sama sekali, tidak ada bisik-bisik, semua disajikan apa adanya, bahkan proses pengecekan pada kondisi lapangan. Kemudian mendapatkan input dari masyarakat itu dilakukan secara pro aktif dan terbuka. Jadi ruang untuk mendapatkan masukan dari masyarakat itu sangat besar, itu menjaga kami tetap independen," ujar Alissa.

Di sisi lain, perhelatan tahunan ini diharapkan mampu membawa dampak jangka panjang bagi internal kepolisian. Apresiasi terhadap prestasi kerja dinilai bisa memicu perubahan perilaku yang positif.

"Ajang ini saya kira salah satu upaya bagaimana mendorong, dengan mengangkat prestasi mereka, memberikan penghargaan, memberikan pengakuan kepada mereka. Harapannya ini menjadi satu value yang bisa direplikasi oleh anggota lainnya di wilayah lainnya," kata Gufron.

Peningkatan kualitas pelayanan dan integritas personel diharapkan berbanding lurus dengan sentimen publik. Kehadiran figur teladan baru diproyeksikan mampu mendongkrak reputasi institusi secara keseluruhan.

"Kita juga percaya bahwa dalam reformasi kepolisian yang sedang digadang itu kita berharap semakin banyak calon-calon yang bisa ikut serta dalam Hoegeng Awards. Karena ada citra yang kita harapkan bisa semakin baik, ada isu kepercayaan publik yang kita ingin membaik. Sehingga harapan kita dari tahun ke tahun itu semakin mendekati apa yang diharapkan dari nama yang melekat kepada Hoegeng tersebut," imbuhnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author