Desa Wisata Les Buleleng Kembangkan Potensi Alam dan Budaya Berkelanjutan

Share

Desa Les yang terletak di pesisir utara Kabupaten Buleleng, Bali, menawarkan daya tarik pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat. Kawasan ini memadukan keindahan alam pesisir, tradisi pembuatan garam palungan, serta suasana pedesaan yang asri, seperti dikutip dari Detik Travel.

Melalui program pembinaan Kampung Berseri Astra, masyarakat setempat dilibatkan secara langsung dalam memajukan potensi daerah. Dukungan yang diberikan mencakup pelatihan kewirausahaan bagi warga, penguatan branding produk UMKM, hingga pembenahan jalur-jalur wisata.

Secara historis, wilayah di Bali Utara ini merupakan desa tua atau dikenal dengan istilah desa Bali Mula. Komunitas masyarakat di kawasan tersebut tercatat sudah eksis sejak abad ke-9.

"Desa Les adalah desa tua, jadi desa Bali Mula. Dari abad ke-9, kita sudah ada community di sini. Jadi, jauh sebelum Majapahit datang, kita memang sudah ada Desa Les gitu," ujar Penggerak Kampung Berseri Astra Les, Nyoman Nadiana, dikutip dari Instagram @satu_indonesia, Kamis (21/5/2026).

Nyoman Nadiana menambahkan bahwa keunikan adat istiadat menjadi ciri khas yang tetap dipertahankan oleh warga setempat.

"Jadi, desa ini adalah desa tua, desa Bali Mula lebih dikenal dengan tradisi yang sangat unik," lanjutnya.

Sektor pelancongan di daerah ini ditunjang oleh rute trekking menuju Air Terjun Yeh Mampeh yang biasa dimanfaatkan pengunjung untuk aktivitas melukat. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan bawah laut Bali Utara lewat kegiatan snorkeling dan diving.

Selain panorama alam, wilayah pesisir ini tersohor dengan sentra produksi garam palungan tradisional. Komoditas tersebut diolah secara alami mengandalkan penguapan air laut murni di bawah terik matahari.

Kapasitas produksi garam palungan di kawasan ini dilaporkan mampu menyentuh angka sekitar 3 ton dalam sekali panen saat musim kemarau. Pihak Astra turut mengintervensi penguatan ekonomi warga melalui perluasan akses pasar produk lokal tersebut.

"Peran Astra dalam bidang kewirausahaan itu salah satunya adalah sudah mencoba untuk membukakan jalan bagaimana produk-produk lokal, misalnya garam ini, biar bisa disampaikan kepada industri-industri dan pasar," terang Nyoman.

Melalui program kemitraan yang berjalan, diharapkan kerja sama dengan berbagai sektor industri dapat terus meluas ke depannya.

"Dan nantinya ke depan kita harapkan bisa lebih banyak lagi industri-industri yang bisa menyerap. Mungkin dari mitra-mitra Astra itu sendiri," pungkasnya.

Pelestarian Lingkungan dan Warisan Budaya

Aspek kelestarian lingkungan juga diimplementasikan lewat pengoperasian integrated farm dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Warga sekitar dilibatkan aktif dalam memproduksi pupuk kompos organik dari limbah domestik.

Pada sektor budaya, tempat ini menyimpan peninggalan arsitektur yang menyerupai Pura Besakih serta deretan arca kuno di Pura Puseh. Warisan tersebut menjadi daya pikat otentik bagi para pelancong.

Sejumlah produk kreatif khas seperti garam palungan, arak, gula juruh lontar tradisional, virgin coconut oil (VCO), hingga minyak tandusan dipasarkan sebagai buah tangan. Pendampingan intensif yang berjalan sejak 2018 ini diarahkan guna memberi kemanfaatan ekonomi yang sejalan dengan kelestarian tradisi dan ruang hidup masyarakat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author