oleh

“COVID-19 JOURNEY OF GLOBAL CITIZEN: WHERE ARE WE NOW?”

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) kembali menyelenggarakan seminar online internasional seri ke-42, seminar yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Magister K3 Kelas PJJ 2020 pada Sabtu, Sabtu (19/12/2020) itu mengambil judul “COVID-19 Journey of Global Citizen: Where Are We Now?”.

Seminar ini bertujuan untuk mengetahui perjalanan penanganan dan perkembangan kasus COVID-19 di negara lain, termasuk perkembangan vaksin yang sedang dikembangkan oleh beberapa produsen di dunia.

Seminar dibuka oleh Dr. Robiana Modjo, SKM., M.Kes, selaku Manager Akademik FKM UI. Ia menekankan bagaimana pentingnya seorang akademisi maupun praktisi Public Health sebagai bagian dari global citizen harus bisa mengambil pelajaran penting yang telah dilakukan oleh negara lain dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini.

Sambutan juga disampaikan oleh dr. Adang Bachtiar, MPH., D.Sc., selaku Ketua Majelis Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) yang berpesan tentang pentingnya identitas dari seorang Professional Future Occupational Health Leaders. dr. Adang berpesan bahwa seorang public health professional harus mampu berperan sebagai seorang Future Leader yang memiliki profil MIRACLE (Manager, Innovator, Researcher, Apprentice, Communitarian, Leader dan Educator).

Baca Juga  DPR Soroti Pendataan Covid-19, Kini Data Real Time yang Dibutuhkan

Seminar yang dihadiri oleh lebih dari 1000 orang peserta secara online dengan pelbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan ini menghadirkan empat orang narasumber dari Amerika Serikat, Rwanda dan Malaysia. Sesi pertama dimulai dengan pemaparan oleh Juhaeri Muchtar, Ph.D., Vice President di Sanofi S.A., Paris, dan Adjunct Professor School of Public Health, University of North Carolina di Chapel Hill, Amerika Serikat.

Juhaeri memaparkan perbandingan Incident Rate COVID-19 di Amerika Serikat dengan Indonesia, serta secara umum juga menjelaskan perkembangan dibidang bio-farmasi terutama obat atau vaksin, yang mana prosesnya merupakan hal yang tidak mudah.

Dimulai dengan tahap uji coba klinis untuk mencari dosis yang tepat. Tahap berikutnya yaitu mencari efektifitas vaksin yang diuji, dilanjutkan dengan membandingkan obat atau vaksin tersebut dengan placebo, dan yang terakhir adalah proses persetujuan dari pengawas obat.

Saat ini ada empat vaksin terdepan yang sedang diuji diberbagai belahan dunia dengan tahapan-tahapan di atas, yaitu pengujian mRNA (Messenger RNA) oleh Moderna, CureVac, Pfizer dan Sanofi. Dari vaksin-vaksin tersebut terdapat dua vaksin yang sudah memperoleh persetujuan “Emergency Use” dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat.

Baca Juga  Antisipasi Varian Baru Virus Corona, DPR: Prokes Jangan Kendor!

Sebagai penutup, Juhaeri menekankan hal terpenting adalah pemerintah harus mampu membuktikan secara scientific setiap kali ada obat/ vaksin yang akan diedarkan serta mindset dari masyarakat Indonesia itu sendiri dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Sesi kedua dibawakan oleh Ufara Zuwasti, MD., M.Sc., Ufara yang berprofesi sebagai residensi unit Radiologi di Newark Beth Israel Medical Centre, New Jersey, AS ini menyampaikan paparan tentang bagaimana Amerika Serikat menghadapi pandemic COVID-19 dari sisi tenaga medis.

Secara khusus Ufara menyampaikan langkah-langkah apa saja yang telah diambil oleh pemerintah AS serta bagaimana keefektifannya, misalnya, tentang kapasitas pengetesan, kebijakan lock-down, strategi bangkit dari pandemi, dan peraturan tentang penggunaan masker di area-area publik hingga kesiapan unit kesehatan, seperti kesiapan tempat tidur rawat inap dan ketersediaan alat pelindung diri untuk tenaga kesehatan.

Ufara menekankan pentingnya penguatan sistem kesehatan, menekan kurva infeksi, tata kelola pengawasan masyarakat, serta disiplin untuk selalu mengenakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak sebagai langkah percepatan pencegahan penyebaran COVID-19.

Baca Juga  Jangan Terlalu Berharap dengan Vaksin, Ini Kata Epidemiolog

Sesi ketiga Dr. Lim Jac Fang, OSHCR., MBBS., Pg.Dip.OH., EMSHE., FIIRSM., FRSPH, FAOEM., Grad.IOSH., CMIA., CPIH, dari Department of Community & Family Medicine, Faculty of Medicine & Health Sciences, Universiti Malaysia Sabah, Malaysia, yang menyampaikan pandangan dan prediksinya tentang situasi pandemi di tempat kerja.

Jac juga menyampaikan hal-hal penting yang diambil oleh pemerintah Malaysia dalam menghadapi COVID-19 ini, seperti mempersiapkan jika terjadi lonjakan kasus, efektifitas dan efisiensi pengetesan serta kebijakan karantina dan isolasi.

Secara gamblang Jac juga menyampaikan bagaimana tempat kerja terutama Occupational Health & Safety (OHS) Practitioners seharusnya melakukan pengelolaan bahaya biologi dengan melakukan analisa risiko.

Penetapan kebijakan bekerja di masa pandemi, mencuci tangan, penggunaan alat pelindung diri, cara membuang barang-barang terinfeksi dan lain sebagainya merupakan langkah-langkah pada tingkat intervensi dasar. Jac juga menyinggung tentang pengawasan kesehatan, pengelolaan terhadap pekerja yang terinfeksi, sistem pelaporan yang proaktif dan efektif, dan pengelolaan catatan.

Baca Juga  Efek Wabah, Kemiskinan Ekstrem Kian Dekat

Terakhir, Jac berpesan tentang pentingnya melakukan konseling, rehabilitasi, program kembali bekerja bahkan sampai dengan pemberian kompensasi. Tahapan-tahapan ini berguna kedepannya jika situasi pandemi kembali terjadi.

Pada sesi terakhir, Saptono Priyadi, S.Si, MPH., menyampaikan tentang peranan pemerintah Rwanda dan kepatuhan masyarakatnya selama masa pandemic COVID-19.

Saptono yang sehari-harinya bekerja sebagai Chief Planning and Monitoring UNICEF di Rwanda ini menjelaskan bagaimana Rwanda, satu negara kecil di Benua Afrika yang berpenduduk kurang dari 13 juta jiwa, mencatat terdapat 6.659 kasus infeksi dengan catatan 56 kematian yang menyertai.

Peranan kebijakan ketat pemerintah serta kepatuhan masyarakatnya terhadap kebijakan ini menjadi faktor penting bagaimana Rwanda melewati masa pandemi ini dengan baik.

Baca Juga  Pandemi Masih Mengancam, Pasar Tanah Abang Tetap Dibuka

Beberapa kebijakan seperti pembentukan Gugus Tugas COVID-19 yang langsung dikepalai oleh Perdana Menteri Rwanda, total locked-down serta menutup perbatasan, menyediakan fasilitas Rapid Test dan PCR test dengan hasil yang bisa diketahui dalam waktu 24 jam, mengaplikasikan strategi pengawasan yang berteknologi tinggi seperti pemantauan menggunakan drone, pengawasan pergerakan masyarakat secara online sangat berperan dalam mencegah penyebaran COVID-19 di Rwanda.

Saptono menekankan pentingnya kualitas kepemimpinan, kesiapan menghadapi bencana, serta bagaimana pemerintah mendengar nasihat dari para ahli dan strategi menghadapi pandemi menjadi kunci sukses keberhasilan menekan penyebaran COVID-19.

Seminar online internasional seri ke-42 yang bisa disaksikan melalui kanal https://www.youtube.com/watch?v=LTVcLDKV15M ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat termasuk para pemangku kepentingan untuk dapat mengambil pelajaran dari upaya-upaya yang telah dilakukan oleh negara lain dalam hal penanganan pandemi COVID-19 di negara kita tercinta. (rls/oke)

Baca Juga  Azis Syamsuddin: Vaksin Nusantara Cermin Kedaulatan Bangsa

Baca Juga