Ciri Ibu Mertua dengan Kecerdasan Emosional Tinggi Menurut Psikolog

Share

Keharmonisan dalam sebuah keluarga besar sangat dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) para anggotanya, termasuk sosok ibu mertua. Seperti dilansir dari HaiBunda, hubungan yang sehat antara menantu dan mertua dapat terbangun secara alami apabila ditopang oleh empati serta rasa saling menghormati.

Psikolog sekaligus penulis buku You, Your Husband, and His Mother, Dr. Tracy Dalgleish, memaparkan bahwa kecerdasan emosional mencakup kesadaran diri, regulasi emosi, empati, serta komunikasi yang sehat. Pemahaman terhadap kepribadian ini membawa dampak besar bagi struktur keluarga secara menyeluruh.

"Secara garis besar, kecerdasan emosional membutuhkan kesadaran diri, pengaturan diri, empati, kemauan untuk berkomunikasi sekaligus memberi ruang untuk memperbaiki kesalahan ketika kita melakukan kesalahan, dan kemampuan untuk membedakan antara diri sendiri dan orang lain," kata psikolog dan penulis buku You, Your Husband, and His Mother, Dr. Tracy Dalgleish.

Mertua yang memilki EQ tinggi tidak merasa bersaing dengan menantunya. Mereka justru mendorong sang anak untuk memprioritaskan pasangan hidupnya dibanding terjebak dalam rasa bersalah atau kesetiaan keluarga yang berlebihan.

"Mereka mengarahkan putra mereka kepada pasangannya alih-alih menarik diri ke arah 'kesetiaan' kepada keluarga atau rasa bersalah," ungkap Dalgleish.

"Mereka memelihara otonomi pasangan dan menantu perempuan tidak dijadikan kambing hitam. Ini menunjukkan pengaturan emosi dan pengambilan perspektif, atau kemampuan untuk menenangkan perasaan tidak nyaman tanpa membebankannya kepada anak atau menantu yang sudah dewasa," sambungnya.

Menunjukkan Empati dan Memahami Batasan

Mertua idaman mampu berempati dan menyadari bahwa kehadiran mereka memengaruhi situasi orang lain. Mereka merangkul menantu tanpa memaksakan ikatan emosional yang terdistorsi.

"Ini menunjukkan empati dan kesadaran sosial, atau pemahaman bahwa kehadiran mereka memang berdampak pada orang lain, tanpa mempersonalisasi dampak tersebut," ujar Dalgleish.

"Ketika mereka menyertakan menantu perempuan, itu juga menandakan kemampuan untuk memprioritaskan rasa memiliki. Seorang ibu mertua yang cerdas secara emosional tetap memegang otonomi dalam hubungan, alih-alih menjadi emosional dan terikat secara berlebihan," sambungnya.

Selain itu, mereka juga sangat menghargai batasan privasi terkait pengasuhan anak, jadwal kunjungan, hingga acara liburan tanpa bersikap defensif.

"Ini termasuk menghormati batasan seputar kunjungan, liburan, dan keputusan pengasuhan anak tanpa sikap defensif atau rasa bersalah," kata Dalgleish.

"Ini menunjukkan pengaturan diri dan diferensiation. Ini seperti mengatakan 'Saya dapat tetap terhubung denganmu bahkan ketika saya merasa kecewa'."

Bertanggung Jawab atas Kesalahan dan Berkomunikasi Terbuka

Mertua ber-EQ tinggi tidak enggan mengikis gengsi demi mengakui kekeliruan dan memperbaiki diri.

"Ini mencerminkan tingkat kesadaran diri yang tinggi dan bukan perjuangan untuk selalu benar atau memilih apa yang benar secara moral," ungkap Dalgleish.

Pola komunikasi yang dibangun bersifat ramah, langsung, dan menjauhi perilaku manipulatif seperti membicarakan keburukan di belakang.

"Mereka tidak menggunakan triangulasi atau rasa bersalah, dan menghindari berbicara di belakang orang lain. Individu yang cerdas secara emosional dapat menyadari bahwa berbicara di belakang seseorang itu berbahaya. Ini juga mengharuskan seorang ibu mertua untuk dapat mengatur perasaan mereka sendiri, agar tidak bertindak secara reaktif," katanya.

Menghargai Individualitas dan Mengatasi Tantangan

Seorang menantu dipandang sebagai individu utuh yang memiliki karier, minat, serta prinsip sendiri, bukan sekadar sosok ibu bagi cucu-cucunya.

"Seorang ibu mertua berinvestasi dalam mengenal siapa menantu perempuannya, melalui minat, karier, dan nilai-nilai, bukan hanya perannya sebagai ibu," ujar Dalgleish.

"Ini adalah praktik individualitas dan juga kesadaran diri yang dibutuhkan untuk tidak hanya fokus pada kegembiraan mereka sendiri saat melihat cucu, atau hanya berfokus pada pengalaman mereka sebagai seorang kakek-nenek."

Mertua dengan kecerdasan emosional matang tetap bersikap inklusif dan menghormati perbedaan nilai yang dimiliki sang menantu.

"Ibu mertua yang individualis tidak harus menyukai semua hal tentang menantu perempuannya dan mereka tetap bisa bersikap hormat dan inklusif. Praktik diferensiasi mengatakan, 'Saya tidak harus menyukai ini, tapi saya bisa menghormatinya'. Ini adalah praktik empati dan juga kesadaran diri tentang apa yang mereka sukai atau tidak sukai, dan kemampuan untuk tidak mendefinisikan seseorang berdasarkan sesuatu yang mereka yakini," ungkap Dalgleish.

Mereka sanggup mengelola rasa tidak nyaman serta mampu menyelesaikan dinamika konflik lewat komunikasi yang lugas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author