China Uji Coba Rudal Balistik Kapal Selam di Samudra Pasifik

Share

Uji coba rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (submarine-launched ballistic missile/SLBM) oleh China di Samudra Pasifik pekan ini memicu kekhawatiran geopolitik baru. Langkah militer Beijing ini, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, dinilai para analis sebagai awal dari potensi peluncuran rudal secara lebih rutin demi memperkuat persenjataan nuklirnya. Ekspansi kekuatan nuklir ini dipimpin langsung oleh Presiden Xi Jinping dengan mengandalkan rudal balistik antarbenua (ICBM) untuk meningkatkan daya jangkau serangan jarak jauh.

Frekuensi pengujian oleh Pasukan Roket Tentara Pembebasan Rakyat (PLA Rocket Force) diperkirakan meningkat, seiring langkah Xi memperluas kekuatan sekaligus memberantas korupsi di internal satuan tersebut.

Peluncuran pada Senin (5/7) menjadi uji terbang rudal jarak jauh ke Samudra Pasifik ketiga yang diketahui publik sejak Republik Rakyat China berdiri pada 1949. PLA pertama kali menggelar uji coba serupa pada 1980 dan baru mengulangnya pada 2024 saat ICBM mereka jatuh di wilayah dekat Tahiti.

Sebagai pembanding, Korea Utara tercatat telah melakukan sembilan uji terbang ICBM yang sukses sejak 2017, menunjukkan jarangnya demonstrasi rudal jarak jauh Beijing di Pasifik. "Inti dari perkembangan ini adalah bahwa modernisasi militer dan nuklir China terus berlangsung dengan cepat," kata Direktur Program Strategi Pertahanan di Australian Strategic Policy Institute, Mike Hughes.

"Seharusnya sudah tidak ada lagi keraguan mengenai ambisi China untuk mendominasi kawasan." Berbeda dengan dua uji coba ICBM sebelumnya yang berbasis di darat, peluncuran terbaru ini mendemonstrasikan kemampuan komponen laut dalam triad nuklir China. Analis memprediksi PLA akan segera memamerkan komponen udara triad nuklir melalui peluncuran rudal berkepala nuklir dari pesawat pengebom strategis, setelah menampilkan rudal JL-1 tahun lalu.

"Beberapa aspek performa rudal, terutama saat memasuki kembali atmosfer (reentry), tidak dapat direplikasi sepenuhnya pada uji coba dengan jarak yang lebih pendek," ujar Jeffrey Lewis, Distinguished Fellow di Foreign Policy Research Institute yang berbasis di Philadelphia.

"Ini merupakan praktik pengujian yang normal dan seharusnya dilakukan setidaknya sekali, bahkan idealnya lebih sering, untuk memastikan rudal bekerja sesuai rancangan," katanya. "Saya menduga kita akan melihat lebih banyak uji coba dibandingkan sebelumnya, tetapi untuk saat ini satu kali pengujian per sistem masih tergolong sangat terbatas." Aktivitas militer pada Senin tersebut memicu kritik keras dari Australia yang menyebutnya mengganggu stabilitas kawasan, sementara Selandia Baru mengkhawatirkan munculnya pola berulang.

Filipina mengecam tindakan itu sebagai demonstrasi kekuatan yang sembrono, sedangkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menegaskan kembali komitmen keamanan bagi para sekutunya.

Merespons dinamika ini, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengusulkan penambahan kapal selam bertenaga nuklir, menyusul langkah Australia melalui kemitraan AUKUS. Korea Selatan juga menargetkan kepemilikan kapal selam nuklir pada akhir 2030-an, sementara India berupaya merampungkan pembelian kapal selam konvensional canggih dari Jerman.

Kementerian Pertahanan China menegaskan kekuatan nuklir mereka tetap berada pada tingkat minimum untuk keamanan nasional dan menolak tudingan terlibat perlombaan senjata. Beijing menyatakan modernisasi tersebut ditujukan untuk melindungi keamanan strategis nasional sekaligus menjaga stabilitas global, seraya meminta negara lain tidak menafsirkan peluncuran ini secara berlebihan.

Pihak China juga mengeluhkan AS yang menguji ICBM lebih sering, termasuk uji operasional Minuteman III tanpa hulu ledak di California pada Mei lalu. Hingga kini belum dipastikan apakah rudal yang diluncurkan berkemampuan jangkauan JL-2 sejauh 7.200 kilometer atau versi terbaru JL-3 yang mencapai 10.000 kilometer. Data Starboard Maritime Intelligence mendeteksi dua kapal pelacak satelit China beroperasi di luar zona ekonomi eksklusif dekat Negara Federasi Mikronesia saat uji coba.

"Kapal-kapal ini membawa antena satelit berukuran besar yang digunakan untuk melacak peluncuran rudal dan aktivitas luar aquasa lainnya. Kemungkinan besar mereka berada di Pasifik untuk mengumpulkan data dari uji coba rudal tersebut," kata analis domain maritim Starboard, Mark Douglas.

"Kedua kapal berangkat dari China sekitar 25 Juni dan sudah berada di lokasi sebelum China mengirimkan pemberitahuan diplomatik mengenai uji coba tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas tersebut telah direncanakan jauh sebelumnya." Penggunaan SLBM ini secara signifikan memperkuat kemampuan serangan balasan nuklir (second-strike capability) karena sifat kapal selam yang sulit dideteksi di bawah laut. "Uji coba dengan jarak sejauh ini merupakan perkembangan yang sangat signifikan dan menunjukkan bahwa China sedang bergerak menuju kemampuan penangkal nuklir berbasis laut yang jauh lebih andal dan memiliki jangkauan lebih panjang," kata Senior Fellow Bidang Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional di Asia Society Policy Institute, Lyle Morris.

"Peluncuran ini tampaknya dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa China kini memiliki kemampuan penangkal nuklir berbasis laut yang operasional sekaligus memperlihatkan kemajuan dalam pembangunan triad nuklirnya," ujarnya.

Terkait pembersihan internal, program SLBM dinilai relatif aman dari kampanye antikorupsi Xi Jinping yang telah menyingkirkan sejumlah jenderal senior sejak pertengahan 2023. "Program SLBM kemungkinan relatif lebih terlindungi dari gelombang pembersihan tersebut" karena dinilai sangat penting, kata Yang Zi, Research Fellow di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura.

Meski memperkirakan uji coba ICBM masa depan meningkat, Yang Zi mengingatkan frekuensinya tidak akan terlalu tinggi demi menjaga efek psikologis kejutan daya gentar. "Uji coba seperti ini hanya akan mengejutkan dan memberi efek psikologis apabila dilakukan sesekali," katanya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author