China Fokus Kurangi Emisi Karbon Sektor Industri Berat
Lembaga think tank iklim Agora Energy China dan Agora Energiewende merilis laporan terbaru pada Rabu lalu yang menyatakan bahwa China kini harus memfokuskan transisi hijau pada sektor industri berat yang sulit dialiri listrik demi mencapai target iklimnya.
Peralihan fokus ini terjadi saat pengembangan energi bersih di negara tersebut telah melampaui pencapaian rekor, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Senin (22/6/2026). Data laporan menunjukkan emisi China hanya meningkat sebesar 0,5% pada tahun 2025, dengan pembangkit listrik tenaga batu bara yang mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam satu dekade.
Pertumbuhan emisi kini semakin terkonsentrasi pada industri berat seperti baja, semen, dan bahan kimia yang menyumbang 14% dari total emisi negara tersebut. Meskipun kapasitas pembangkit listrik tenaga surya dan angin meningkat lebih dari dua kali lipat hingga mencapai 22% dari total listrik pada tahun 2025, tingkat pemanfaatannya justru turun di bawah 95% akibat keterbatasan jaringan listrik.
Tantangan ini menuntut integrasi sistem yang lebih fleksibel agar pasokan listrik bersih yang melimpah dapat diserap optimal oleh sektor industri. China juga tetap perlu menekan emisi sebesar 1% per tahun demi memenuhi kewajiban iklim pada tahun 2035.
"China sebagian besar telah mengatasi tantangan dalam meningkatkan penggunaan energi terbarukan," kata Kevin Tu, direktur pelaksana Agora Energy China.
Pemerintah China dijadwalkan merilis Rencana Lima Tahun ke-15 untuk pengembangan energi pada akhir tahun ini guna menjawab tantangan tersebut.
"Rencana lima tahun ke-15 pemerintah untuk pengembangan energi yang akan dirilis akhir tahun ini “akan menjadi ujian nyata pertama bagi transisi ini dalam skala besar,”" kata Kevin Tu, direktur pelaksana Agora Energy China.
Upaya dekarbonisasi industri berat ini nantinya akan mengandalkan pemanfaatan hidrogen terbarukan, pemanas listrik, dan material rendah karbon.
"Pengurangan emisi menggunakan hidrogen terbarukan, pemanas listrik, dan material rendah karbon “pada akhirnya bergantung pada akses terhadap listrik bersih yang melimpah dan sistem tenaga yang lebih fleksibel,”" kata Kevin Tu, direktur pelaksana Agora Energy China.