CEO Take-Two Bantah Red Dead Online Dianggap Produk Gagal
Komunitas pemain Red Dead Online sempat menggelar aksi protes berupa upacara pemakaman simbolis pada tahun 2022 setelah game tersebut tidak mendapat pembaruan berarti selama hampir setahun. Nasib permainan daring ini dinilai masih menggantung hingga sekarang, meskipun sempat muncul harapan baru lewat kehadiran pembaruan Strange Tales of the West.
Banyak pihak menganggap Red Dead Online sebagai sebuah kegagalan, namun pandangan tersebut dibantah keras oleh CEO Take-Two Interactive, Strauss Zelnick. Seperti dilansir dari Gamebrott, Strauss Zelnick memberikan pujian tinggi terhadap performa seri Red Dead secara keseluruhan, termasuk untuk mode daringnya.
Strauss Zelnick menolak dengan tegas anggapan bahwa Red Dead Online merupakan kegagalan atau peluang yang terlewatkan. Penegasan ini muncul saat ia ditanya mengenai perbedaan mencolok antara game tersebut dan GTA Online dalam hal popularitas, angka penjualan, serta dukungan jangka panjang.
"Tidak ada satu hal pun dari pencapaian Red Dead yang terjual 85 jiwa kopi yang bisa disebut sebagai peluang yang terlewatkan. Red Dead Online sendiri sudah terbukti sukses besar dan bertahan lama." kata Strauss Zelnick.
Seluruh tim pengembang dilaporkan sangat bangga dengan pencapaian game tersebut. Strauss Zelnick juga mengungkapkan kesan pribadinya yang merasa terpesona dan masih menikmati permainan itu sampai sekarang.
Pernyataan tersebut di sisi lain memicu rasa kecewa bagi para komunitas pemain. Para pemain merasa Red Dead Online ditinggalkan terlalu cepat oleh pihak pengembang demi mengalihkan fokus penuh ke GTA Online.
Rockstar masih terus menyuntikkan berbagai konten baru ke dalam GTA Online yang kini sudah berusia hampir 13 tahun. Pembaruan tersebut mencakup fitur bisnis, mansion mewah, deretan misi baru, hingga jalan cerita yang mendatangkan kembali karakter ikonik dari GTA V.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan Red Dead Online yang dirilis pada akhir 2018. Game bertema koboi ini tercatat hanya memperoleh dukungan konten secara penuh selama sekitar tiga tahun sebelum akhirnya tidak lagi diprioritaskan.
Langkah yang diambil Rockstar ini dinilai masuk akal dari sisi bisnis karena GTA Online dilaporkan masih menghasilkan pendapatan rata-rata satu juta dolar AS per hari melalui penjualan Shark Cards. Faktor finansial tersebut membuat fokus dan alokasi sumber daya perusahaan tetap dicurahkan ke GTA Online dibandingkan ke Red Dead Online.