Komando Pusat AS Bantah Laporan Kematian Tujuh Prajurit di USS Abraham Lincoln
Komando Pusat Amerika Serikat membantah kabar yang menyebutkan tujuh personel Angkatan Laut tewas dalam bentrokan di atas kapal induk USS Abraham Lincoln yang sedang bertugas di Timur Tengah, seperti dilansir dari Detikcom.
Klaim mengenai tewasnya prajurit militer AS tersebut sebelumnya diberitakan oleh media Iran, Tasnim News Agency, yang melaporkan adanya bentrokan fisik antarpersonel akibat tingginya tekanan serta lamanya masa pengerahan kapal.
Laporan tersebut mengklaim insiden berdarah bermula ketika kedatangan penasihat Komando Pusat AS untuk menanggapi keluhan awak kapal justru disambut protes keras hingga terjadi perkelahian menggunakan senjata tajam.
Pihak militer Amerika Serikat secara tegas menepis tuduhan kericuhan fatal maupun peningkatan kasus bunuh diri di atas kapal induk tersebut melalui pernyataan resminya.
"Selama 48 jam terakhir, berbagai media telah melaporkan beberapa klaim palsu terkait penempatan USS Abraham Lincoln (CVN 72) ke Timur Tengah. Satu laporan menuduh tujuh pelaut tewas dalam perkelahian di atas kapal induk dan laporan lain baru-baru ini, menyebutkan adanya peningkatan niat bunuh diri. Laporan-laporan ini SALAH," tulis CENTCOM.
Pihak militer menekankan bahwa seluruh personel tetap solid dan berdedikasi tinggi meskipun telah menjalankan penugasan panjang di perairan internasional.
"USS Abraham Lincoln mempertahankan salah satu tingkat perpanjangan masa tugas awak kapal tertinggi (84,4%) di antara semua kapal induk di Angkatan Laut AS. Para pelaut dan marinir dari Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln tetap tangguh dan gigih setelah lebih dari 260 hari di laut, 10.000 penerbangan pesawat, dan 1,5 juta pon amunisi yang digunakan," imbuh militer AS tersebut.
CENTCOM menegaskan tidak ada korban jiwa dalam tugas tersebut, melainkan hanya satu insiden prajurit jatuh yang berhasil ditangani dengan selamat.
"Tidak ada anggota militer di atas kapal induk yang meninggal, dan satu pelaut yang jatuh ke laut pada 3 Agustus dengan cepat dan aman telah diselamatkan. Pemberitaan yang salah tentang penempatan bersejarah Abraham Lincoln merugikan para prajurit kita dan orang-orang yang mereka cintai," imbuh CENTCOM.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut memberikan tanggapan terkait kondisi para prajurit serta masa pengerahan kapal induk tersebut.
"Tidak, mereka tidak khawatir," kata Trump.
Trump juga menolak anggapan bahwa penugasan selama sembilan bulan di laut tersebut sudah melewati batas wajar.
"Tidak, tidak, tidak, justru belum cukup lama," ujarnya.
Di sisi lain, isu pengerahan pasukan ini memicu reaksi keras dari kalangan legislatif di Washington.
Pemimpin Minoritas Senat Amerika Serikat Chuck Schumer mendesak agar Menteri Pertahanan Pete Hegseth segera dicopot dari jabatannya.
"Ketika Pete Hegseth dinominasikan, semua orang tahu dia sama sekali tidak kompeten," kata Schumer dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, dilansir Anadolu Agency, Jumat (14/8/2026).
Politikus Partai Demokrat tersebut menilai kepemimpinan di Departemen Pertahanan telah merugikan para prajurit yang sedang bertugas.
"Sekarang para pelaut pemberani kita membayar harganya dengan cara yang mengerikan dan tak terbayangkan. Pete Hegseth harus segera dipecat," imbuh senator dari Partai Demokrat itu.