Candi Losari Magelang Ungkap Penemuan Keping Emas Kuno Pasca Tertimbun Erupsi Merapi
Candi Losari yang berlokasi di Dusun Losari, Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, kini menjadi sorotan setelah para arkeolog menemukan kepingan emas murni berukuran sekitar 1,5 sentimeter dengan kadar 16,5 karat. Situs bersejarah ini diketahui telah terkubur selama kurang lebih seribu tahun akibat terjangan material letusan Gunung Merapi.
Proses rekonstruksi candi purbakala ini sedang diintensifkan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X. Agenda pemugaran fisik tersebut ditargetkan rampung sepenuhnya pada Oktober 2026 mendatang.
Seperti dilansir dari Detik Travel, benda bernilai sejarah tinggi tersebut ditemukan tepat di bagian bawah lantai bangunan utama. Saat ini, artefak emas kuno itu telah diamankan dan disimpan di Kantor Balai Pelestari Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah untuk penelitian lebih lanjut.
Menurut Penanggung Jawab Kegiatan Rekonstruksi Candi Losari, Junawan, benda tersebut memiliki fungsi sakral dalam ritual keagamaan masa lampau. Struktur logam mulia ini digunakan sebagai sarana spiritual untuk menghidupkan roh atau jiwa kedewaan pada kompleks peribadatan tersebut.
"(Kegunaan) Sederhananya sebagai sumber energi spiritualnya suatu candi untuk menghidupkan roh/jiwa kedewaan," ujarnya, Rabu (10/6).
Selain objek berbahan logam mulia, tim di lapangan juga berhasil menyingkap dua blok arca Dewa Surya selama proses pemugaran berjalan. Temuan terbaru ini menambah daftar inventarisasi purbakala di lokasi menjadi total 5 arca, setelah sebelumnya 3 arca berhasil diangkat pada tahap ekskavasi awal.
Meskipun popularitas kompleks sejarah ini belum setara dengan Candi Borobudur atau Candi Prambanan, karakteristik arsitektur dan misteri di balik pembangunannya menawarkan daya tarik yang mendalam untuk dipelajari.
Berdasarkan catatan literatur dalam buku Candi Indonesia Seri Jawa karya Edi Sedyawati dkk yang dirilis Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, situs kuno ini pertama kali ditemukan pada tahun 2004 silam di area perkebunan salak milik warga setempat.
Data dokumen ilmiah dari Eprints UMS menyebutkan bahwa penemuan awal terjadi tanpa sengaja ketika pemilik lahan sedang mencangkul tanah untuk membangun saluran air. Mata cangkul yang membentur struktur batuan keras memicu penggalian lebih dalam hingga menampakkan susunan mirip tempat peribadatan.
Temuan dari kebun tersebut kemudian dilaporkan secara berjenjang ke pihak kelurahan hingga diteruskan ke balai konservasi. Langkah ekskavasi lanjutan yang digelar secara sistematis berhasil menyingkap keberadaan 1 bangunan candi induk yang didampingi oleh 3 struktur candi perwara atau pengiring.
Kompleks religi ini diperkirakan merupakan peninggalan kebudayaan Hindu, yang diperkuat dengan penemuan arca Mahakala di lokasi situs. Para ahli arkeologi memprediksi masa pendirian bangunan suci ini berlangsung sekitar abad ke-9 atau abad ke-10 Masehi.
Terkait waktu terjadinya bencana alam yang menimbun situs, terdapat dua analisis ilmiah yang berbeda. Saibatul Islamiah melalui riset skripsinya yang menggunakan metode resistivitas memperkirakan erupsi besar Gunung Merapi terjadi di antara tahun 925 hingga 928 Masehi.
Di sisi lain, informasi resmi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang menyebutkan dugaan bahwa kompleks suci ini mulai terisolasi dari peradaban akibat bencana letusan gunung berapi pada tahun 1006.
Struktur Arsitektur dan Dimensi Bangunan
Hasil kajian kolaboratif antara Balai Arkeologi Yogyakarta, Jurusan Arkeologi FIB UGM, BPCB Jawa Tengah, dan BPPT Kegunungapian pada tahun 2007 menunjukkan bahwa total luas gugusan cagar budaya ini mencapai 25 meter x 25 meter. Seluruh area situs purbakala ini juga dikelilingi oleh tembok pagar pembatas.
Bangunan candi induk dirancang menghadap ke arah timur dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar berukuran 3,60 meter x 3,60 meter, sementara bagian kakinya berdimensi 4,50 meter x 4,50 meter. Pada dinding sisi timur badan bangunan utama, terdapat hiasan berupa relief kepala Kala.
Untuk bangunan pendamping atau candi perwara, posisinya dibuat menghadap ke arah barat dengan jarak antara sekitar 8 meter dari bangunan utama. Salah satu candi perwara memiliki dimensi dasar 3,16 meter x 3,16 meter dengan tinggi 0,95 meter serta dilengkapi ornamen dekoratif dari kaki hingga atap.
Dua bangunan perwara lainnya memiliki ukuran denah yang sama yaitu berbentuk bujur sangkar 1,60 meter x 1,60 meter dengan ketinggian bagian kaki mencapai 1,40 meter. Pada bagian atas akses masuk ketiga candi perwara tersebut, dipahat hiasan kepala kala berambut sulur-suluran dengan karakteristik mata melotot, taring atas yang terlihat jelas, serta lidah menjulur.