Calon Taruni Bengkulu Lolos Seleksi Akpol Usai Tiga Kali Mencoba

Share

Nabilla Syafitri Hannas Tasya (20) berhasil menjadi satu-satunya calon Taruni pengiriman Polda Bengkulu yang dinyatakan lolos seleksi tingkat pusat Akademi Kepolisian Tahun Anggaran 2026. Kelulusan ini diraih usai menjalani tiga kali tahapan seleksi, seperti dilansir dari Detikcom pada Senin (27/7/2026).

Perjuangan anak montir bengkel mobil tersebut dimulai sejak 2024. Nabilla sempat gugur pada tahap pemeriksaan kesehatan tingkat daerah di tahun pertama, kemudian gagal kembali di sidang penentuan akhir tingkat daerah pada seleksi tahun 2025.

"Memang hidup itu tidak terduga. Saya pikir tahun pertama (seleksi pada 2024) saya lulus, tapi ternyata butuh tiga kali percobaan untuk bisa lolos menjadi Taruni Akpol," kata Nabilla di Auditorium Cendikia Akpol, Semarang, Jawa Tengah.

Meski berkali-kali mengalami kegagalan, posisi peringkat Nabilla di tingkat daerah terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Ia merangkak naik dari peringkat ketiga pada tahun pertama, peringkat kedua di tahun berikutnya, hingga akhirnya menduduki posisi pertama dari 16 peserta calon Taruni Bengkulu pada 2026.

"Setiap kali gagal, saya perhatikan letak kekurangan saya. Setelah itu saya berlatih lebih giat lagi," ucap Nabilla.

Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, ia menyadari peta persaingan antarpeserta sangat ketat. Strategi khusus diterapkan dengan memaksimalkan potensi diri di bidang akademik dan tes psikologi untuk mengimbangi keterbatasannya di bidang jasmani.

"Dari saya ikut seleksi 2024, 2025, sampai 2026 tidak ada yang instan. Semua berjenjang, ada proses, ada peningkatan," ujar Nabilla.

Pendekatan terukur tersebut memastikannya mampu bersaing ketat dengan seluruh kandidat lain tanpa memaksakan diri di seluruh materi ujian.

"Saya tidak terlalu mengejar nilai jasmani karena saya tahu itu bukan kekuatan saya. Jadi saya fokus mengejar nilai psikologi dan akademik," kata Nabilla.

Nabilla menegaskan seluruh tahapan seleksi rekrutmen anggota Polri yang dijalaninya tidak dipungut biaya dan berlangsung secara terbuka.

"Saya targetkan nilai psikologi dan akademik harus segini supaya tidak terkejar calon Taruna lainnya. Jadi saya memetakan kemampuan saya sendiri," ucap Nabilla.

Pengalaman langsung selama tiga tahun berturut-turut membuktikan kepada Nabilla bahwa stereotipe negatif mengenai biaya masuk kepolisian tidak terbukti.

"Saya tidak ada kepikiran soal ikut seleksi keluar biaya karena saya dengar dari tahun-tahun sebelumnya ke lolos seleksi pusat pun semua biaya ditanggung oleh panitia. Sampai di sini pun saya tidak dipungut biaya karena makan dan lain-lain sudah dikasih, jadi tidak ada biaya sama sekali," ujar Nabilla.

Seluruh akomodasi dan konsumsi selama proses seleksi di tingkat pusat ditanggung sepenuhnya oleh panitia pelaksana.

"Memang stereotipe itu masih ada. Banyak orang berpikir masuk Akpol tidak gratis. Tapi saya tidak harus debat dengan orang-orang.

Saya yakin masuk polisi gratis karena saya sudah ikut seleksi pertama, kedua, sampai ketiga. Tidak pernah ada tuntutan biaya, tidak ada diskriminasi, dan tidak ada biaya yang dibebankan kepada saya," tambah Nabilla.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: akpol Bengkulu polri Taruni
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author