Burj Khalifa Diperkirakan Bertahan Hingga Ratusan Tahun Tanpa Manusia
Gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa di Dubai, diperkirakan mampu berdiri kokoh selama beberapa abad hingga akhirnya runtuh dalam kurun waktu 300 hingga 800 tahun jika manusia mendadak lenyap dan menghentikan seluruh perawatan. Bangunan setinggi 828 meter yang selesai dibangun pada 2010 tersebut dirancang dengan fondasi pelat beton bertulang setebal 3,7 meter serta 163 lantai. Struktur ini menggunakan sistem inti berpenopang yang menghubungkan poros utama dengan tiga sayap saling menguatkan.
Para insinyur merancang gedung ini agar memiliki masa pakai minimal satu abad dalam kondisi perawatan normal. Tanpa adanya pemeliharaan rutin, proses kerusakan awal akan dipicu oleh iklim panas dan kering di Dubai serta paparan air tanah bergaram di kawasan pesisir.
Kerusakan fisik diprediksi mulai terjadi pada kurun waktu 10 hingga 30 tahun pertama setelah manusia menghilang. Panel dinding kaca dan aluminium akan memburuk akibat pelapukan penutup kedap air, yang memicu masuknya air hujan ke sambungan baja struktur.
Penghentian sistem mekanis gedung juga memicu fluktuasi suhu ekstrem yang memberi tekanan tambahan pada struktur beton. Memasuki dekade berikutnya, proses korosi akan menjadi ancaman utama bagi kekuatan baja tulangan di dalam beton. Penetrasi karbon dioksida dan ion klorida dari air tanah asin secara perlahan mengikis lapisan pelindung baja pada fondasi pancang setinggi 43 hingga 50 meter. Karat yang terbentuk pada baja akan memuai dan memicu retakan pada beton di sekitarnya.
Kerusakan kasat mata diperkirakan terlihat jelas pada bagian bawah dan tengah bangunan dalam rentang 100 hingga 200 tahun. Pelapukan beton yang mengelupas akan melemahkan kolom perimeter serta bagian inti gedung. Penurunan kekakuan struktur akan membuat bangunan lebih rentan terhadap beban angin kencang. Keruntuhan total diperkirakan terjadi secara bertahap saat struktur yang tersisa tidak lagi mampu menahan berat bebannya sendiri.