BRIN Ungkap Penyebab Fenomena Embun Es yang Melanda Dieng
Media sosial baru-baru ini diramaikan oleh unggahan video fenomena embun es yang menyelimuti dedaunan dan tanaman di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Kejadian alam yang unik ini menarik perhatian publik secara luas. Dilansir dari Detikcom, fenomena frost atau embun beku di kawasan Dieng tersebut terjadi akibat kombinasi dari berbagai macam faktor alamiah.
Kawasan yang mengalami fenomena ini berada pada wilayah berketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aris Pramudia, menerangkan beberapa aspek yang memicu kemunculan kristal es tersebut. Faktor pemicunya mulai dari embusan angin musim kemarau hingga bentuk topografi wilayah.
"Selain karena tiupan angin pada puncak musim kemarau yang membawa udara dingin, langit cerah atau clear sky tanpa tutupan awan juga menjadi penyebabnya. Bentuk wilayah yang cekung juga menyebabkan udara mengendap dan terjebak di dasar cekungan, sehingga tidak dapat mengalir keluar dari cekungan," jelasnya dikutip dari aman BRIN, Rabu (15/7/2026).
Aris Pramudia menambahkan bahwa kondisi angin yang tenang pada waktu dini hari turut memicu pembentukan es tersebut. Penurunan suhu udara yang sangat ekstrem kemudian membuat air melewati titik bekunya. Kehadiran embun es ini memang terlihat menawan bagi wisatawan, namun memiliki dampak buruk bagi keberlangsungan sektor pertanian setempat. Frost dapat mengakibatkan kerusakan fatal pada komoditas sayuran di lahan pertanian Dieng.
"Di dataran tinggi Dieng, tanaman existing adalah tanaman pertanian hortikultura atau perkebunan dataran tinggi, seperti kentang, sayuran, teh, dan lainnya. Sehingga, disarankan untuk tetap mengembangkan tanaman existing tersebut dengan adanya antisipasi terhadap munculnya frost pada waktu-waktu tertentu," ungkap Aris. Guna menekan risiko kerusakan tanaman, Aris Pramudia memberikan beberapa rekomendasi taktis bagi para petani setempat. Salah satu metode yang disarankan adalah penerapan teknik penyemprotan air atau water sprinkling.
Petani juga disarankan melakukan proses pemanasan secara langsung pada tanaman. Langkah alternatif lainnya adalah dengan melakukan pengadukan udara atau meniupkan angin buatan untuk menstimulasi sirkulasi udara di sekitar lahan. Langkah pencegahan tambahan dapat dilakukan dengan cara mendirikan naungan di atas tanaman. Para petani juga disarankan memilih area tanam yang aman serta mengaplikasikan material penutup di atas permukaan tanah.
Penerapan Inovasi dan Dinamika Kebutuhan Sektor Regional
Sebagai solusi jangka panjang, penggunaan teknologi modifikasi cuaca (TMC) dinilai layak untuk diuji coba. Aris Pramudia membagikan hasil pengamatannya saat melakukan riset di kawasan Cartenz, Papua Tengah.
Di wilayah Cartenz, jenis vegetasi yang mampu bertahan hidup hanya tanaman lumut. Pola pendekatan teknologi serupa dirasa dapat dipelajari untuk diterapkan pada kawasan dataran tinggi Dieng.
"Teknologi dari modifikasi cuaca di Dieng bukan untuk menambah volume salju, tapi menjadi pembelajaran teknologi dalam hal mengantisipasi terjadinya salju. Dan yang menjadi perhatian bersama adalah terdapat konflik kebutuhan adanya frost di Dieng antara sektor pertanian dan sektor pariwisata," tutup Aris.