BRIN Bantah Hoaks Gerhana Matahari Total pada 2 Agustus 2026
Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional membantah narasi di media sosial mengenai fenomena Gerhana Matahari Total pada 2 Agustus 2026 yang diklaim membuat Bumi gelap gulita. Pemerintah menyatakan informasi tersebut merupakan hoaks karena terdapat kesalahan penyebutan tahun, sementara fenomena astronomi yang sebenarnya baru akan terjadi di wilayah Arab Saudi dan Afrika Utara pada tahun 2027. Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa kekeliruan tahun penulisan menjadi pemicu menyebarnya informasi menyesatkan tersebut di masyarakat.
Badan Antariksa AS atau NASA mengonfirmasi bahwa Gerhana Matahari Total terdekat akan terjadi pada 12 Agustus 2026, namun jalurnya hanya melewati wilayah Greenland, Islandia, Rusia utara, Samudra Atlantik, Spanyol, dan sebagian kecil Portugal.
Fenomena ini diprediksi menjadi salah satu peristiwa langit paling spektakuler karena menjadi gerhana pertama yang melintasi daratan Spanyol sejak tahun 1905. Masyarakat di Indonesia dipastikan tidak bisa mengamati peristiwa ini secara langsung di langit dan hanya dapat menyaksikannya melalui siaran daring resmi milik NASA.
Direktur Sains Badan Antariksa Eropa (ESA) Carole Mundell menyambut baik antusiasme fenomena ini melalui pernyataan resmi yang dilansir dari CNN Indonesia. "Gerhana Matahari total adalah salah satu momen langka ketika jutaan orang dapat menengadah bersama dan merasakan keajaiban serta rasa ingin tahu," kata Carole Mundell, Direktur Sains Badan Antariksa Eropa (ESA).
Ia menambahkan bahwa peristiwa alam tersebut berfungsi sebagai penghubung manusia dengan alam semesta di sekitarnya. "Ini adalah momen bersama yang menghubungkan kita dengan alam semesta dan mengingatkan kita bahwa keinginan untuk menjelajah dan memahami adalah salah satu kekuatan terbesar umat manusia," tambahnya. Sementara itu, fenomena yang akan menyebabkan kegelapan di siang hari selama 5 menit 55 detik di Arab Saudi baru akan terjadi pada 2 Agustus 2027 mendatang.
Peristiwa tahun 2027 tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Jeddah Astronomical Society Majed Abu Zahra sebagai gerhana matahari total pertama di wilayah kerajaan itu sejak 77 tahun terakhir atau pascaperistiwa 'Tahun Kegelapan' pada 1952.
Majed Abu Zahra memaparkan perubahan kondisi lingkungan yang akan terjadi di wilayah barat dan barat daya Arab Saudi saat fase totalitas berlangsung nanti. "Cahaya siang akan meredup menyerupai suasana senja selama fase totalitas. Fenomena ini disertai penurunan suhu yang terasa, kemunculan korona Matahari, serta terlihatnya beberapa bintang dan planet di langit," ucap Majed Abu Zahra, Kepala Jeddah Astronomical Society. Pakar cuaca Arab Saudi Khaled Al Zaaq menambahkan bahwa durasi gerhana tersebut akan menjadikannya yang terlama di Timur Tengah pada abad ke-21.
Para pengamat di Arab Saudi berkesempatan melihat efek cincin berlian dan kilatan Baily's beads saat piringan Matahari tertutup penuh oleh Bulan.
Pemerintah mengimbau masyarakat agar selalu menyaring kebenaran informasi astronomi melalui lembaga resmi seperti Komdigi, BRIN, atau NASA.