BPS Catat Sejuta Lulusan Perguruan Tinggi Menganggur UI Buka Suara
Badan Pusat Statistik mencatat sebanyak 1.033.182 lulusan diploma empat hingga strata tiga di Indonesia belum memiliki pekerjaan berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional Mei 2026. Angka tersebut setara dengan 14,31 persen dari total pengangguran, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Tantangan ekonomi global serta metode pembelajaran di lingkup kampus dinilai menjadi pendorong utama munculnya fenomena tingginya angka pengangguran terdidik tersebut. Faktor eksternal beriklim global turut memberikan tekanan terhadap penyerapan tenaga kerja di dalam negeri.
"Karena kan perubahan ekonomi global juga sekarang kan terjadi, apa istilahnya, penurunan pertumbuhan ekonomi secara global karena berbagai macam faktor global ya. Pasti itu ada," kata Ketua Dewan Guru Besar Universitas Indonesia Prof Eko Prasojo.
Penguatan kemampuan nonakademis atau soft skill menjadi kunci utama agar para wisudawan mampu terserap dengan cepat di pasar kerja. Ijazah serta nilai akademis hanya berfungsi sebagai syarat awal masuk ke dunia industri.
"Yang pertama, bagaimana kita menjaga tetap relevan dengan kebutuhan industri dan profesi. Itu melalui perubahan kurikulumnya, learning outcome, atau luaran pembelajaran dan seterusnya. Yang kedua, kita terus membangun soft skill dari mahasiswa ya," kata Eko Prasojo.
Kemampuan berkomunikasi, memimpin, hingga berinteraksi antarindividu sangat dibutuhkan untuk menunjang performa lulusan di lapangan. Penyesuaian kurikulum pembelajaran juga terus didorong agar selaras dengan dinamika profesi saat ini.
"Jadi yang pertama tadi hard competence, itu adalah learning outcome pembelajaran, apakah itu di bidang sosial, humaniora, kedokteran, ataupun sainstek. Tapi yang paling penting adalah memperkuat juga soft skill mahasiswa. Itu juga yang diperlukan sekali," kata Eko Prasojo.
Sementara itu, berdasarkan penelusuran rekam jejak internal Universitas Indonesia, masa tunggu para wisudawan untuk memperoleh pekerjaan rata-rata berkisar antara dua hingga tiga bulan. Sejumlah mahasiswa dari program studi tertentu bahkan telah mendapatkan pekerjaan sebelum prosesi wisuda berlangsung.
"Ada yang sebelum lulus sudah bekerja. Saya dengar kemarin di Aktuaria, beberapa mahasiswa itu selesai sidang, belum wisuda, mereka sudah direkrut untuk bekerja di perusahaan tempat mereka magang," kata Rektor Universitas Indonesia Prof Heri Hermansyah.
Perusahaan saat ini cenderung lebih memprioritaskan calon pekerja yang memiliki kualifikasi ilmu spesifik dibandingkan lulusan dari program studi yang bersifat umum. Penjurusan yang terfokus memberikan keunggulan tersendiri dalam memenuhi kebutuhan tenaga ahli di industri.
"Nah ini dunia usaha ternyata memerlukan, apa, segmen-segmen yang lebih spesifik seperti tadi administrasi kan umum, begitu. Administrasi Fiskal, laku keras. Aktuaria, itu kan gabungan dari manajemen dan matematik ya. Nah kalau kita bicara manajemen umum tapi bicara aktuaria itu beda acceptance-nya di pasar yang memerlukan tenaga-tenaga tadi," kata Heri Hermansyah.