Bobot Saham Indonesia di MSCI Emerging Markets Naik pada Juli 2026
Bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets meningkat pada Juli 2026, meskipun keseluruhan indeks mengalami koreksi, demikian dilaporkan oleh Mirae Asset Sekuritas Indonesia pada 24 Juli 2026.
Menurut analis Wilbert Arifin, bobot Indonesia kini stabil di kisaran 0,5 persen setelah menyentuh titik terendah 0,4 persen pada Juni 2026, turun dari 1,2 persen pada Desember 2025.
Naiknya bobot ini seiring dengan kinerja indeks MSCI Indonesia yang naik 12,5 persen secara month-to-date (MTD), berbanding terbalik dengan penurunan MSCI Emerging Markets sebesar 4 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh melambatnya saham bertema kecerdasan buatan dan pasar saham Korea Selatan yang turun 21,6 persen.
Aliran dana asing yang keluar dari pasar Indonesia juga menyusut menjadi Rp 4,1 triliun secara MTD, dari rata-rata Rp 12,3 triliun pada semester pertama 2026.
Wilbert Arifin menyatakan, "Pemulihan bobot sesungguhnya masih bergantung pada pencabutan kebijakan pembekuan." Kebijakan pembekuan ini membatasi penambahan emiten baru dan kenaikan status saham dalam indeks MSCI hingga November 2026.
Selain itu, riset Mirae Asset menyebutkan bahwa kriteria penyaringan untuk saham dengan lonjakan harga ekstrem (Extreme Price Increase/EPI) yang baru tidak relevan selama kebijakan pembekuan masih berlaku. Aturan ini awalnya dibuat untuk mengatasi dugaan perdagangan terkoordinasi pada saham kapitalisasi kecil di Turki.
Setelah pembekuan dicabut, 43 konstituen MSCI Indonesia Small Cap akan tunduk pada aturan ini, yang mengeluarkan saham dengan lonjakan harga melebihi 1,8 kali ambang batas ukuran standar dari indeks small-cap dan mengevaluasi ulang untuk indeks standar berikutnya.
Di sisi lain, analis Bahana Sekuritas Raja Abdalla menyampaikan bahwa Indonesia kini termasuk dalam kategori 'Wallflowers Market', yaitu pasar saham dengan bobot sangat kecil dalam indeks MSCI Emerging Markets sehingga semakin diabaikan oleh investor global.
Raja Abdalla menjelaskan, "Ketika penentu harga dari investor asing mulai mundur, basis investor domestik akan mengambil peran sebagai pembeli marginal sehingga perilaku pasar akan berubah dibanding sebelumnya." Hal ini menunjukkan pergeseran peran investor dalam pasar saham domestik.
Menurut riset Bahana, investor institusi domestik lebih fokus pada saham berkapitalisasi besar, sementara investor ritel memburu saham likuid dengan momentum, sehingga saham berkapitalisasi menengah dan kecil masih kesulitan mendapatkan permintaan baru setelah penurunan kepemilikan asing.
Raja juga menilai dana kelolaan investor institusi domestik cukup besar, namun porsi investasi ke pasar saham masih relatif rendah sehingga belum mampu menggantikan peran investor asing sepenuhnya.
Strategi investasi yang direkomendasikan adalah selektif dengan fokus pada emiten yang memiliki pendapatan berbasis dolar AS serta saham berkapitalisasi besar yang likuid dan memiliki basis investor kuat seperti PT Bank Central Asia Tbk, PT Astra International Tbk, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.
Investor juga disarankan menghindari jebakan saham berdividen tinggi karena pelemahan nilai tukar dapat menggerus imbal hasil dividen, dan memilih saham defensif seperti PT Cisarua Mountain Dairy Tbk, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, dan PT Unilever Indonesia Tbk.