BNN Luncurkan Gerakan Ananda Bersinar untuk Lindungi Anak dari Narkoba
Upaya memproteksi generasi muda dari ancaman penyalahgunaan narkotika terus diperkuat oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) RI. Dilansir dari Detikcom, langkah preventif tersebut salah satunya direalisasikan melalui peluncuran Gerakan Ananda Bersinar (Aksi Nasional Anti-Narkotika Dimulai dari Anak Bersih Narkotika).
Kepala BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan edukasi mengenai bahaya narkoba sekaligus membentuk karakter dan memperkuat ketahanan diri anak. Selain itu, program tersebut bertujuan meningkatkan kecakapan hidup (life skills) serta mengoptimalkan peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial.
Pencegahan sejak dini dinilai menjadi krusial karena anak yang sehat secara fisik dan berpendidikan baik tetap memiliki risiko kehilangan masa depan apabila tidak mempunyai kemampuan menolak penyalahgunaan narkotika.
"Gerakan Ananda Bersinar kami rancang agar berjalan searah dengan agenda besar pembangunan sumber daya manusia yang dipimpin oleh Bapak Presiden. Sebab anak yang sehat secara fisik, tercukupi gizinya, memperoleh pendidikan yang baik, tetapi tidak memiliki daya tangkal terhadap narkotika, tetap berada dalam risiko kehilangan masa depannya," kata Komjen Suyudi.
Guna memperkokoh ekosistem pencegahan, BNN membangun kolaborasi bersama kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI (Kemendikdasmen). Sinergi ini mendorong integrasi kurikulum anti-narkotika (KAN) ke dalam mata pelajaran yang sudah ada di sekolah.
Integrasi kurikulum tersebut diharapkan mampu menjadi sarana edukasi yang efektif bagi generasi muda dalam memahami bahaya narkotika. Di samping itu, penguatan gerakan juga dilakukan melalui pembentukan wadah khusus di lingkungan kepramukaan.
"Kami juga menginisiasi penguatan gerakan melalui Saka Narkotika atau Saka Anti-Narkotika," tutur Komjen Suyudi.
Berdasarkan data BNN, tingkat prevalensi nasional penyalahgunaan narkotika saat ini telah mencapai 2,11% atau setara dengan 4,15 juta jiwa. Lonjakan kasus terbesar tercatat berasal dari kelompok usia 15-24 tahun, yang merupakan kelompok usia produktif sekaligus calon penggerak pembangunan nasional.