BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Terjadi pada Agustus 2026

Share

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebanyak 61,4 persen wilayah Indonesia atau 429 Zona Musim (ZOM) akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Meski demikian, kombinasi dinamika atmosfer termasuk sirkulasi siklonik membuat potensi hujan lebat hingga sangat lebat tetap mengintai sejumlah daerah pada periode peralihan ini.

Data dari BMKG menunjukkan wilayah yang akan mengalami puncak kemarau pada Agustus mendatang meliputi Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa bagian tengah hingga timur, Bali, NTB, sebagian NTT, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku, Maluku Utara, dan sebagian Pulau Papua. Kedatangan musim kemarau tahun ini dinilai lebih cepat karena sejak Mei 2026 sebanyak 184 ZOM sudah memasuki masa kering tersebut.

Di tengah masa peralihan menuju kemarau, BMKG tetap mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem akibat adanya gelombang tropis Kelvin dan Rossby Ekuatorial serta pembentukan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Kondisi ini memicu pertumbuhan awan hujan lebat di Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Maluku Utara, serta hujan petir di beberapa kota besar seperti Banda Aceh, Tanjung Pinang, dan Bandar Lampung.

"Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut," ujar prakirawan BMKG Ina Indah dalam siarannya.

Sirkulasi siklonik terpantau terbentuk di Samudra Hindia barat Sumatera Barat, Samudra Pasifik utara Papua, Samudra Pasifik utara Papua Nugini, dan Samudra Pasifik timur laut Papua Nugini. Selain hujan, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan juga memperingatkan potensi gelombang tinggi mencapai 1,25 hingga 2,5 meter di Perairan Barat Kepulauan Nias dan sekitarnya.

"Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah yang dilewati konvergensi atau konfluensi," kata prakirawan BMKG Bintari A dikutip dari laman resmi BMKG di Jakarta.

Fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang bergerak menuju fase positif diprediksi akan menurunkan curah hujan secara umum dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Guna mengantisipasi dampak buruk kemarau, BMKG berkoordinasi lintas sektor termasuk meningkatkan akurasi prakiraan cuaca serta menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

"Meskipun demikian, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan masih berada pada fase 3 di Samudra Hindia, dengan hasil filter spasial aktif di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga berpotensi mendukung peningkatan pembentukan awan konvektif di sejumlah wilayah Indonesia meskipun berada dalam El Nino Condition," tulis BMKG dalam laman resminya.

Langkah mitigasi juga diperkuat melalui sistem diseminasi informasi berbasis digital yang dapat menjangkau masyarakat luas. BMKG memastikan teknologi radar dan nowcasting kini disiapkan agar peringatan cuaca ekstrem dapat tersampaikan lebih cepat ke tingkat daerah.

"Dalam menghadapi musim kemarau tahun ini, upaya antisipasi harus dilakukan sejak awal. Termasuk memperkuat koordinasi lintas sektor dan memastikan informasi peringatan dini tersampaikan hingga tingkat daerah," kata Guswanto dalam keterangannya.

Sektor-sektor rentan seperti pertanian, transportasi, dan pengelolaan sumber daya air menjadi fokus utama sebaran informasi iklim ini. Kesiapsiagaan daerah ditekankan untuk mencegah krisis air bersih dan karhutla di area rawan.

"Informasi mengenai prediksi, sekarang ini sudah sampai level desa. Jadi kalau lihat di aplikasi itu kan sudah bisa per kelurahan atau per desa, kami berusaha agar forecasting itu akurat," beber Andri.

Peningkatan suhu udara yang sempat mencapai 35 hingga 36,5 derajat Celsius di beberapa wilayah juga menjadi perhatian. Masyarakat diimbau menjaga kondisi fisik menghadapi perubahan cuaca yang fluktuatif selama masa transisi iklim.

"Intensitas siklon topis diprakirakan menurun dan bergerak ke arah barat-barat laut menjauhi wilayah Indonesia," ujarnya pada Senin (11/5/2026) malam.

Monsun Australia yang membawa massa udara kering diproyeksikan terus menguat dan menekan pertumbuhan awan hujan di bagian selatan Indonesia secara bertahap.

"Pelemahan angin timuran tetap berpotensi meningkatkan kandungan uap air, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, sehingga peluang hujan masih terbuka," katanya.

Masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang mendadak atau angin kencang sebelum wilayahnya benar-benar memasuki puncak musim kemarau.

"Masyarakat perlu miningkatkan kondisi tubuh saat cuaca panas dengan menggunakan pelindung dari sinar matahari dan mencukupi kebutuhan cairan, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan," pungkas Adelia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author