BMKG Memprediksi Musim Kemarau 2026 Mulai Melanda Indonesia Juni Ini

Share

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah di Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada Juni 2026. Informasi ini tercantum dalam Buku Prediksi Musim Kemarau 2026 yang dirilis sejak Maret lalu, seperti dikutip dari Detikcom.

Laporan tersebut menjadi acuan penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Perencanaan matang sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi dampak perubahan cuaca yang terjadi.

Awal musim kemarau di tanah air dipastikan tidak berlangsung secara serentak. BMKG membagi wilayah pemantauan ke dalam 699 Zona Musim (ZOM) di seluruh Indonesia.

Dari total zona tersebut, sebanyak 163 ZOM atau sekitar 23,3 persen wilayah diproyeksikan mulai kering pada Juni 2026. Periode kemarau ini sebenarnya sudah mulai berkembang di beberapa daerah sejak April dan Mei.

Berdasarkan data resmi BMKG, wilayah yang dijadwalkan memasuki musim kemarau pada Juni 2026 mencakup sebagian besar Aceh, sebagian Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, sebagian Jambi, dan sebagian Bengkulu.

Kondisi serupa juga melanda Kepulauan Bangka Belitung, sebagian Sumatera Selatan, sebagian kecil Lampung, sebagian kecil Pulau Jawa, serta sebagian besar Kalimantan.

Untuk wilayah timur, area yang terdampak meliputi sebagian Sulawesi Utara, Gorontalo bagian utara, sebagian Sulawesi Barat, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian kecil Sulawesi Selatan, dan sebagian Sulawesi Tenggara.

Wilayah lain yang turut masuk dalam daftar adalah sebagian Maluku, sebagian Papua Barat, hingga Papua bagian timur.

Potensi Kemarau Lebih Kering

Sifat musim kemarau pada tahun ini diperkirakan bakal memicu tantangan lebih besar. BMKG menyebutkan bahwa karakter kemarau kali ini cenderung lebih kering jika dibandingkan dengan kondisi normalnya.

Sebanyak 451 ZOM atau setara 64,5 persen wilayah musim di Indonesia diprediksi mengalami sifat musim kemarau kategori bawah normal. Kondisi bawah normal ini ditandai dengan akumulasi curah hujan yang jauh lebih rendah dari rata-rata klimatologis.

Kurangnya pasokan hujan berpotensi meningkatkan risiko kekeringan parah di berbagai daerah. Langkah mitigasi sejak dini menjadi hal yang krusial agar dampak buruknya dapat ditekan.

Puncak musim kemarau sendiri diperkirakan baru akan terjadi pada Agustus 2026. Sebanyak 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah akan mengalami masa paling kering pada bulan tersebut.

BMKG mengimbau seluruh sektor, mulai dari pertanian, sumber daya air, energi, lingkungan, hingga kebencanaan untuk segera menggunakan data prediksi ini sebagai bahan rencana mitigasi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author