BMKG Prediksi Musim Kemarau di Indonesia Berlangsung Hingga Oktober 2026

Share

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan musim kemarau tahun 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan berlangsung hingga pertengahan sampai akhir Oktober. Fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole positif menjadi faktor utama yang memicu kondisi iklim cenderung lebih kering.

Hingga pertengahan Agustus 2026, sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim telah memasuki periode kemarau. Wilayah yang mengalami dampak durasi kemarau bervariasi, seperti Jawa yang mencapai 11 hingga 30 dasarian, Sumatera 3 hingga 28 dasarian, serta Sulawesi 5 hingga 28 dasarian.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan memaparkan peta iklim menunjukkan sinyal transisi musim yang mulai terlihat menjelang akhir tahun.

"Pada umumnya musim kemarau tahun 2026 di Indonesia akan berakhir di sekitar pertengahan bulan Oktober," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan.

Perubahan kondisi cuaca diprediksi terjadi secara bertahap dimulai dari wilayah barat Indonesia sebelum meluas ke wilayah lainnya.

"Bulan Oktober dan November kita mulai muncul warna kuning yang menunjukkan bahwa hujan di wilayah Indonesia mulai normal walaupun juga kita lihat di bulan November itu hujan di Pulau Jawa misalkan, masih di bawah normal, tapi hujannya sudah mulai datang dan masuk ke wilayah Jawa," tutur Ardhasena Sopaheluwakan.

BMKG memproyeksikan fenomena El Nino masih bertahan hingga awal 2027 dengan peluang intensitas kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen. Puncak fenomena tersebut diperkirakan terjadi pada Desember 2026.

"Dampak El Nino di Indonesia itu juga sangat bergantung dengan bagaimana kondisi panasnya laut di sekitar wilayah Indonesia. Jadi tidak serta-merta dampaknya akan persis sama dengan tahun-tahun sebelumnya," ujar Ardhasena Sopaheluwakan.

Dampak dinamika suhu permukaan laut tersebut menciptakan variasi karakter iklim pada setiap episodenya.

"Tidak ada satu kejadian El Nino yang selalu sama dengan El Nino tahun sebelumnya, maupun juga tidak ada dampak yang selalu sama dengan kejadian El Nino-El Nino selanjutnya," kata Ardhasena Sopaheluwakan.

Meskipun kondisi atmosfer didominasi udara kering, hujan lokal masih berpotensi terjadi di sejumlah kawasan seperti Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, dan Papua Pegunungan. BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk menghemat penggunaan air serta memitigasi risiko kebakaran hutan dan lahan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author