BMKG Petakan Potensi Cuaca Ekstrem dan Pantau Gempa Sangihe
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia sekaligus mengonfirmasi aktivitas gempa beruntun yang melanda Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, hingga Sabtu, 27 Juni 2026. Kondisi atmosfer nasional saat ini dipicu oleh pembentukan daerah konvergensi dan konfluensi yang memanjang, serta diperkuat adanya sirkulasi siklonik di Samudera Pasifik utara Papua. Prakirawan BMKG Yuyun Wulandari memaparkan bahwa fenomena dinamika atmosfer tersebut secara langsung memicu pertumbuhan awan hujan secara signifikan di sekitar wilayah sirkulasi.
"Kondisi atmosfer ini mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar daerah sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi maupun konfluensi," kata Yuyun Wulandari, Prakirawan BMKG dalam siaran cuaca yang dilansir Antara.
Dampak dari pergerakan angin ini menimbulkan peringatan dini cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga sangat lebat untuk wilayah Maluku, serta hujan petir di Tanjung Selor. Sementara itu, pembaruan peringatan dini untuk periode 27 hingga 28 Juni 2026 juga mencakup 19 wilayah lain seperti Aceh, Jawa Barat, Kalimantan Barat, hingga seluruh wilayah Papua yang berpotensi mengalami bencana hidrometeorologi.
Di sisi lain, prakiraan cuaca harian untuk kota-kota besar di Indonesia menunjukkan dominasi kondisi berawan hingga hujan dengan intensitas ringan dan sedang. Prakirawan BMKG Afif Shalahuddin mengimbau beberapa wilayah di bagian barat dan timur Indonesia untuk mengantisipasi potensi curah hujan tersebut.
"Untuk bagian barat Indonesia diwaspadai terdapat potensi hujan sedang di Serang, kemudian berpotensi hujan ringan di Banda Aceh, Medan, Tanjung Pinang, Padang, Bengkulu, Palembang, kemudian Pontianak, dan Tanjung Selor," kata Afif Shalahuddin, Prakirawan BMKG. Kondisi kabut atau udara kabur juga diprediksi muncul di wilayah Pekanbaru, Bandar Lampung, dan Mataram. Afif mengingatkan bahwa rilis data cuaca ini merupakan gambaran umum dan masyarakat diminta untuk terus memperbarui informasi melalui kanal resmi.
"Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," tulis BMKG melalui akun resmi @infoBMKG terkait akurasi data darurat.
Selain dinamika cuaca, BMKG melaporkan aktivitas seismik di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, yang diguncang gempa berkekuatan magnitudo 6,8 pada Jumat, 26 Juni 2026, pukul 18.34 WIB. Gempa berkedalaman 10 kilometer yang berpusat di laut pada jarak 196 kilometer barat laut Tahuna tersebut dinyatakan tidak berpotensi memicu tsunami. Rentetan aktivitas tektonik berlanjut hingga Sabtu, 27 Juni 2026, pukul 03.07 WIB dengan terjadinya gempa susulan berkekuatan magnitudo 4,7 pada kedalaman 10 kilometer di posisi 230 kilometer barat laut Tahuna.