BMKG Memprediksi Puncak Musim Kemarau 2026 Terjadi pada Agustus
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026, sehingga instansi terkait diimbau segera menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang, Rabu (10/6/2026).
Hasil pemutakhiran data yang dilansir dari Detikcom menunjukkan bahwa permulaan musim kemarau tahun ini umumnya datang lebih awal atau maju dibandingkan kondisi normalnya. Selain itu, intensitas curah hujan sepanjang periode kemarau diprediksi berada pada kategori bawah normal, yang berarti kondisi lingkungan akan menjadi jauh lebih kering.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan sebaran wilayah daratan yang akan terdampak oleh fenomena alam tahunan tersebut dalam sebuah konferensi pers resmi.
"Adapun untuk puncak musim kemarau sebagian besar wilayah Indonesia di 369 zona musim mencakup 48,84% luas daratan Indonesia, diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan Agustus 2026," kata Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG.
Pihak otoritas meteorologi tersebut sangat berharap data hasil analisis cuaca ini dapat dipergunakan secara optimal oleh pemangku kebijakan. Dokumen prediksi tersebut dirancang sebagai panduan dalam menyusun perencanaan tindak lanjut sektor-sektor yang rentan terhadap perubahan iklim ekstrem.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan memaparkan rincian tahapan pergerakan puncak kemarau yang terbagi ke dalam beberapa fase bulanan di ratusan zona musim (ZOM).
Fase awal puncak kemarau dimulai pada Juli 2026 yang melanda 83 zona musim atau setara 12,26 persen daratan. Dominasi puncak kemarau kemudian bergeser pada Agustus di 369 zona musim, lalu disusul oleh 169 zona musim atau 25,41 persen daratan pada September 2026.
Secara geografis, wilayah yang mencapai puncak kemarau pada Juni meliputi sebagian Sumatera, sebagian kecil Kalimantan, sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, serta Papua bagian timur.
Untuk wilayah yang memasuki puncak kemarau pada Agustus meliputi Sumatera bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, Maluku Utara bagian selatan, dan sebagian besar Pulau Papua.
Sementara pada September, puncak kemarau bergeser ke Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.
Durasi masa kering pada tahun ini juga dikonfirmasi mengalami perpanjangan waktu yang signifikan melampaui batas batas normal pada ratusan zona musim di tanah air.
"Durasi musim kemarau tahun 2026 ini kita prediksi lebih panjang, yaitu sebanyak 437 zona musim yang mencakup 48,77% luas daratan Indonesia," kata Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG.
Sebagai perbandingan akurasi data, BMKG mencatat terdapat 70 zona musim atau sekitar 8,32 persen luas daratan yang durasi kemaraunya sama dengan kondisi normal. Sebaliknya, hanya ada sekitar 79 zona musim atau 9,23 persen wilayah daratan Indonesia yang berpotensi mengalami durasi kemarau lebih singkat dari biasanya.