BMKG Jelaskan Fenomena Matahari Merah Pekat di Palangka Raya

Share

Fenomena penampakan Matahari berwarna merah pekat seperti bola api menghiasi langit Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Perubahan visual tersebut dipicu oleh tingkat konsentrasi partikel asap di lapisan atmosfer, sebagaimana dilaporkan oleh Detik iNET.

Prakirawan BMKG Palangka Raya, Chandra, mengonfirmasi bahwa pemicu utama perubahan warna cahaya Matahari tersebut adalah fenomena kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sedang melanda wilayah Kalimantan Tengah. Partikel-partikel padat di udara secara langsung memengaruhi radiasi cahaya sebelum menembus hingga ke permukaan Bumi.

"Benar, bisa dipengaruhi dari kabut asap karhutla yang sedang terjadi di wilayah Kalimantan Tengah," ujar Prakirawan BMKG Palangka Raya Chandra.

Aerosol yang dihasilkan oleh kebakaran terbukti menyerap sekaligus menghamburkan spektrum cahaya Matahari. Berdasarkan penjelasan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), partikel asap kecil tersebut memblokir gelombang cahaya pendek seperti warna biru, sehingga spektrum warna merah dan jingga menjadi lebih dominan saat mencapai pandangan mata.

"Cahaya yang kita lihat dari Matahari tampak lebih redup dan lebih merah daripada biasanya," tulis NASA dalam rilis Astronomy Picture of the Day pada 30 Juli 2026.

Proses ini makin menguat manakala posisi Matahari bergerak mendekati garis cakrawala. Jarak lintasan cahaya yang makin panjang menembus atmosfer membuat hambatan oleh aerosol asap, debu, dan polusi semakin intensif hingga memancarkan warna merah pekat.

Sejumlah literatur ilmiah juga mencatat karakteristik spesifik dari materi asap karhutla di Indonesia. Studi oleh J.L. Gras bersama tim pada 1999 dalam Geophysical Research Letters menemukan bahwa partikel aerosol asap di Kalimantan memiliki daya hambur cahaya yang sangat tinggi, terutama ketika berinteraksi dengan tingkat kelembapan udara yang meningkat.

Penelitian lanjutan oleh Teruyuki Nakajima memperlihatkan bahwa kandungan campuran partikel karbon dan sulfat pada asap kebakaran hutan Indonesia secara signifikan merubah pola interaksi radiasi Matahari di atmosfer. Peningkatan ukuran aerosol optical depth secara langsung memperlemah intensitas radiasi pancaran cahaya yang tiba di daratan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author