BMKG Gencarkan Modifikasi Cuaca Mitigasi Karhutla Musim Kemarau

Share

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar operasi modifikasi cuaca di beberapa wilayah Indonesia pada Kamis (30/7/2026) untuk memitigasi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) imbas musim kemarau, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Upaya rekayasa cuaca tersebut berfokus pada wilayah yang berpotensi tinggi mengalami bencana karhutla serta kawasan yang membutuhkan pasokan air tambahan.

Deputi Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menyampaikan bahwa pelaksanaan operasi modifikasi cuaca ini disesuaikan dengan tingkat kebutuhan curah hujan serta ketersediaan awan di setiap lokasi target.

"Perlu kami sampaikan bahwa operasi modifikasi cuaca saat ini sedang dilakukan untuk mitigasi karhutla di beberapa tempat. Yang di Aceh ini baru selesai. Kemudian yang di Palembang sudah seminggu yang lalu ya ini hari ini kemungkinan juga akan selesai," kata Deputi Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto.

Tri Handoko Seto menambahkan bahwa setelah wilayah Aceh dan Palembang, operasi serupa langsung dialihkan ke kawasan lain yang membutuhkan percepatan mitigasi.

"Kemudian yang di Pekanbaru baru mulai hari ini kita lakukan dan yang di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, juga sedang kita laksanakan. Ini semua tentu saja didasarkan atas pertama kebutuhan akan curah hujan yang lebih tinggi untuk mitigasi karhutla dan juga disesuaikan dengan potensi awan yang ada," sebut Tri Handoko Seto.

Proses modifikasi cuaca dilakukan dengan mengoptimalkan dan mengondisikan potensi awan alami yang sudah terbentuk di atmosfer agar mampu mengalirkan presipitasi secara maksimal.

"Jadi kami tidak bisa meng-create awan, tapi begitu ada awan kita berikan lakukan operasi modifikasi cuaca ini sangat efektif mampu menghasilkan jutaan meter kubik air hujan yang diharapkan mampu mencegah terjadinya karhutla. Bahkan kalau sudah terjadi karhutla, diharapkan bisa memadamkan api yang ada," beber Tri Handoko Seto.

Sepanjang periode berjalan, BMKG mencatat telah menuntaskan sebanyak 17 kali operasi modifikasi cuaca yang terbagi dalam kurun waktu 169 hari di berbagai kawasan strategis.

"Sementara itu yang untuk pengisian danau atau waduk, ini kita lakukan di sudah kita lakukan di tiga lokasi. Yaitu di daerah tangkapan air Danau Toba, kemudian di Batam, Kepulauan Riau karena di sana pulau kecil itu kebutuhan airnya sangat tinggi ya, sumber airnya mungkin tidak begitu memadai sehingga kita perlu modifikasi cuaca," terang Tri Handoko Seto.

Langkah penyemaian awan di area tangkapan air tersebut dirancang untuk mengamankan cadangan air baku masyarakat serta mengantisipasi dampak fenomena iklim El Nino selama musim kemarau 2026.

"Juga pernah sudah kita lakukan di Sulawesi Tengah ya untuk mengisi Danau Poso ya supaya ketersediaan air terjaga. Ini semua kita lakukan dalam rangka mitigasi musim kemarau tahun 2026 yang tadi dijelaskan oleh Pak Deputi Klimatologi terjadi El Nino dan juga disampaikan dengan Pak kepala dengan sangat komprehensif tadi," imbuh Tri Handoko Seto.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: BMKG karhutla Modifikasi Cuaca
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author