Bentrokan Warga di Adonara NTT Tewaskan Tiga Orang
Bentrokan antardesa akibat konflik tanah adat kembali pecah di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (18/7/2026) pagi, yang menyebabkan tiga warga meninggal dunia dan puluhan rumah terbakar. Insiden berdarah yang melibatkan warga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak ini dilansir dari Detikcom. Selain korban jiwa, pertikaian tersebut mengakibatkan lima orang mengalami luka ringan serta memicu evakuasi darurat bagi sejumlah guru dan siswa yang sedang berkemah. Pemerintah daerah setempat sebelumnya telah berupaya memediasi sengketa lahan ini, namun ketegangan terus berulang setelah konflik serupa pada Mei lalu yang melukai tujuh warga.
Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran mengonfirmasi data mengenai korban meninggal dunia dalam pertikaian tersebut serta proses pemakamannya.
"Korban 3 (meninggal) orang, 2 Lewonara (Desa Narasaosina) 1 Belle (Desa Waiburak)," kata Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran. Pemerintah daerah menyebutkan dua korban langsung dimakamkan pada hari Sabtu, sedangkan satu korban lain dievakuasi untuk dimakamkan pada hari berikutnya.
Kasi Humas Polres Flores Timur AKP Eliezer A. Kalelado memaparkan data terkini mengenai dampak kerusakan dan korban luka-luka yang timbul akibat kerusuhan. "Tiga orang meninggal dunia, lima orang luka ringan, dan 20 unit rumah terbakar," ujar Eliezer saat dikonfirmasi detikBali, Minggu (19/7).
Pihak kepolisian menyatakan bahwa proses pendataan kerugian materiil dan korban masih terus berjalan di lapangan. "Kami memastikan personel gabungan TNI-Polri tetap melaksanakan penjagaan di wilayah Adonara Timur untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat," ujarnya. Aparat keamanan mengimbau agar seluruh lapisan masyarakat tidak terpengaruh oleh isu-isu yang belum terverifikasi demi menjaga ketertiban.
"Mari bersama menjaga persaudaraan, menyelesaikan setiap persoalan dengan kepala dingin, dan mempercayakan penanganannya kepada Kepolisian sehingga situasi di Adonara Timur tetap aman, damai, dan kondusif," jelasnya.
Di sisi lain, situasi yang memanas memaksa evakuasi guru dan murid dari bumi perkemahan SMPN 1 Adonara Timur melalui jalur perairan demi keselamatan mereka. "Sembilan orang siswa dan dua guru dievakuasi," kata Muhammad Sole Kadir, guru SMPN 1 Adonara Timur, saat dikonfirmasi detikBali, Sabtu (18/7). Para siswa terpaksa dipulangkan lebih awal ke rumah masing-masing menggunakan perahu kayu melewati jalur laut menuju wilayah aman.
"Karena konflik, jadi semua siswa dipulangkan dari perkemahan ke rumah. Mereka (siswa) yang dari wilayah konflik Belle (Desa Waiburak) dipulangkan lewat laut," imbuhnya.