Bentrokan Maut Awak Kapal Induk USS Abraham Lincoln Tewaskan 7 Orang
Perselisihan berdarah pecah di antara awak kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln saat menjalankan misi blokade maritim terhadap Iran di Laut Arab. Insiden ini menewaskan tujuh anggota personel militer dan melukai beberapa orang lainnya. Kericuhan dipicu oleh kelelahan ekstrem serta keresahan meluas akibat perpanjangan masa tugas yang telah melewati batas awal.
Kondisi hidup yang buruk di atas kapal penjelajah nuklir kelas Nimitz tersebut turut memperkeruh ketegangan antaranggota militer. Kapal induk yang bertolak dari San Diego sejak November 2025 itu tercatat telah menjalani tugas di kawasan Timur Tengah melebihi durasi normal. Selama penugasan, kapal ini terlibat dalam operasi militer "Epic Fury" sebelum dialihkan pada misi pembatasan lalu lintas laut Iran.
Masalah sanitasi, kerusakan peralatan, serta keterbatasan jatah makanan memicu gelombang protes internal di dalam kapal. Personel militer melaporkan temuan jamur di area mandi, penghentian fasilitas cuci pakaian, hingga minimnya porsi konsumsi harian.
Ketegangan memuncak ketika seorang penasihat Komandan Komando Pusat AS Gen. Brad Cooper naik ke atas kapal untuk meredakan situasi. Kehadirannya justru mendapat penolakan keras dari para awak yang melontarkan cemoohan serta lemparan botol air.
Eskalasi konfrontasi verbal tersebut kemudian berubah menjadi aksi kekerasan fisik yang melibatkan senjata tajam. Otoritas militer mencatat jatuhnya korban jiwa dan luka-luka dalam peristiwa tersebut, sementara desakan kepulangan dari pihak keluarga di Amerika Serikat terus berlanjut.