Bentrokan di Kapal Induk USS Abraham Lincoln Tewaskan 7 Tentara AS
Tujuh personel Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan tewas dan beberapa lainnya luka-luka setelah pecah bentrokan sengit di atas kapal induk USS Abraham Lincoln yang sedang beroperasi di Samudera Hindia pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Insiden berdarah tersebut dipicu oleh frustrasi mendalam dan tekanan psikologis ekstrem akibat masa penugasan yang terus diperpanjang dalam mendukung operasi militer melawan Iran. Kericuhan berawal saat seorang penasihat Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Brad Cooper naik ke atas kapal untuk menanggapi keluhan para prajurit.
Kedatangan pejabat tersebut justru disambut cemoohan hingga lemparan botol air oleh para personel yang berkumpul. Situasi memanas hingga berujung perkelahian fisik menggunakan pisau dan senjata tajam lainnya, yang merenggut nyawa tujuh prajurit di atas kapal yang telah berada di laut selama 208 hari tanpa henti itu.
Kondisi moral dan mental para pelaut di kapal yang mengangkut sekitar 5.000 personel tersebut dilaporkan memburuk drastis. Selain kelelahan bekerja dalam shift panjang, keluarga prajurit membeberkan adanya krisis pasokan makanan, ketersediaan air bersih, hingga keterbatasan barang kebutuhan pokok di atas kapal.
Sejumlah insiden krisis mental bahkan dilaporkan terjadi sebelum bentrokan pecah, termasuk upaya prajurit yang mencoba melompat ke laut karena kelelahan ekstrem. Tekanan berat ini memicu protes keras dari sekitar 200 keluarga prajurit dalam pertemuan dengan Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut AS Hung Cao di San Diego.
"Dia takut. Dia berpikir akan diberhentikan secara tidak hormat, dan hanya karena dia kelelahan, kariernya selama 13 tahun hancur begitu saja," kata Annabelle Loma, istri seorang pelaut yang sempat mencoba melompat dari kapal induk.
Insiden serupa berhasil digagalkan oleh rekan sesama prajurit yang sedang bertugas menjaga keselamatan di area kapal.
"Dia bilang dia belum pernah merasakan adrenalin seperti itu sebelumnya dan sangat bersyukur bisa menghentikan teman itu tepat waktu," kata Maria Rodriguez, istri dari pelaut yang membantu menggagalkan aksi tersebut.
Risiko pekerjaan di atas kapal induk yang pada dasarnya sangat tinggi kini bertambah bahaya akibat kondisi stamina prajurit yang menurun drastis.
"Ini sudah menjadi tempat paling berbahaya di dunia, dan sekarang Anda harus bekerja keras, hari demi hari, tanpa istirahat. Ini adalah lingkungan rawan kecelakaan," kata Brett Snow, veteran Angkatan Laut AS.
Keluarga prajurit mendesak pemerintah AS untuk segera memulangkan kapal induk tersebut sebelum krisis kemanusiaan di dalam kapal semakin memburuk.
"Dokter atau terapis kapal mengatakan mereka harus segera berlabuh atau orang-orang akan mulai kehilangan akal sehat," ucap Bonnie York, ibu dari salah satu prajurit.
Tekanan mental tidak hanya dirasakan oleh para prajurit di medan tempur, tetapi juga berdampak langsung pada psikologis keluarga yang ditinggalkan di tanah air.
"Saya sangat berharap bahwa perang ini sepadan. Karena saya merasa sebaliknya … kita berkorban untuk sesuatu yang pada dasarnya tidak ingin kita ikuti," kata York.
Anak-anak dari para personel militer juga harus menanggung beban emosional akibat ketiadaan tanggal pasti kepulangan orang tua mereka.
"Saya tidak tahu bagaimana menikmati memulai tahun terakhir sekolah tanpa ibu saya di sini," kata Shelby Sanders, anak dari seorang pelaut di USS Abraham Lincoln.
Rasa cemas mendalam turut dirasakan para orang tua yang melihat anak-anak mereka bertugas di tengah situasi yang tidak menentu.
"Kami khawatir kondisi misi ini akan mengambil korban di antara anak kami yang bertugas. Itu beban yang tak tertahankan di hati saya," ungkap Manuel Guevara, ayah dari seorang pelaut.
Menanggapi gelombang keluhan tersebut, pihak militer AS menyatakan tetap berupaya menjaga kondisi operasional pasukan di lapangan.
"Kami dengar jelas dampak ini pada keluarga, anggota militer, dan kemampuan jangka panjang kami untuk menjaga kesehatan pasukan," kata Wakil Laksamana Joseph Cahill, komandan Naval Surface Forces.
Pihak armada menyatakan kelangkaan barang pokok hanya bersifat sementara dan kebutuhan mendasar tetap diupayakan terpenuhi.
"Mereka kadang-kadang kekurangan persediaan tertentu untuk jangka waktu singkat, tetapi Abraham Lincoln dan semua kapal di medan operasi saat ini memiliki persediaan makanan dan perlengkapan yang cukup untuk mendukung operasi," kata Komandan Joseph Hontz, juru bicara Armada ke-5 Angkatan Laut AS.
Hingga saat ini, pemerintah AS belum mengumumkan jadwal resmi penarikan USS Abraham Lincoln dari wilayah konflik, meski kelompok serang kapal induk USS Theodore Roosevelt dilaporkan sedang disiapkan sebagai tim pengganti.