Bentrokan di Menteng Tewaskan Satu Orang dan Polisi Periksa 15 Saksi

Share

Aparat kepolisian mengamankan tiga orang dan memeriksa 15 saksi terkait bentrokan antarkelompok yang pecah di kawasan Jalan Tambak, Menteng, Jakarta Pusat, pada Minggu (26/7) pagi. Insiden berdarah tersebut mengakibatkan satu orang warga berinisial K (23) meninggal dunia dan seorang lainnya berinisial DS mengalami luka berat.

Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat Iptu Erlyn membenarkan terjadinya peristiwa kerusuhan tersebut saat dikonfirmasi oleh awak media pada hari kejadian.

"Betul ada kejadian yang dimaksud, tapi sampai sekarang saya belum ada data lengkapnya," ujar Iptu Erlyn.

Perselisihan tersebut memicu kehancuran fisik di lokasi kejadian, termasuk perusakan sarana umum dan kendaraan motor yang hangus terbakar. Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra menjelaskan kondisi terkini usai olah tempat kejadian perkara.

"Informasi terbaru dari dua orang yang diamankan dari TKP masih dalam kondisi kritis saat dibawa, namun ketika di rumah sakit ada satu yang sudah meninggal," kata AKBP Roby Heri Saputra.

Pihak kepolisian mengerahkan personel Brimob ke lokasi untuk mengendalikan situasi setelah menerima laporan dari warga sekitar pukul 10.00 WIB. Petugas langsung menyoroti kronologi timbulnya perkelahian tersebut.

"Dari korban yang kita amankan dari TKP ada dua orang dibawa ke RSCM, dan dari kelompok warga yang ada, ada dari dua kelompok, satu kelompok enam orang dan yang dari luar itu dua orang yang kita sedang amankan dan ambil keterangannya di Polsek Menteng," jelas AKBP Roby Heri Saputra.

Roby menyebut awal mula perselisihan ditengarai oleh kekesalan pemotor yang merasa tidak dilayani dengan baik saat hendak membeli makanan di Jalan Matraman Dalam.

"Jadi ada kelompok dari yang diserang ini datang mau beli sarapan, kemudian mungkin tidak dilayani dengan baik atau tidak berkenan, sehingga menggeber kendaraannya. Kemudian dia pergi," kata AKBP Roby Heri Saputra.

Kelompok pemotor itu lantas kembali bersama rekan-rekannya dan merusak tempat usaha dagang pedagang nasi uduk tersebut.

"Kemudian datang lagi dengan membawa teman-temannya merusak gerobak penjual nasi uduk atau sarapan tersebut," ucap AKBP Roby Heri Saputra.

Aksi perusakan gerobak tersebut mengundang amarah warga sekitar hingga aksi saling serang meluas sampai ke Jalan Tambak.

"Kemudian dari kejadian perusakan tempat penjualan itu, dibalas oleh warga sekitar menyerang tempat dari kelompok tersebut, nah sehingga terjadilah keributan tersebut," ungkap AKBP Roby Heri Saputra.

Seorang warga setempat bernama Yafa memberikan kesaksian berbeda bahwa perselisihan berawal dari seorang pembeli yang enggan membayar makanan.

"Terus awalnya gini, orang jualan, terus orang Ambon kayak beli nasi uduk tapi nggak bayar, kabur. Terus sama anak dalem neriakin, dia nyelonong aja, gitu. Terus dia ke sini lagi nggak seneng, ditebalikin (gerobak nasi uduk) udeh," kata Yafa.

Warga lalu membantu merapikan jualan pedagang yang jatuh akibat perusakan tersebut.

"Rame, lumayan, terus dibantu sama pembeli diberdiriin tadi awalnya pada jatoh bumbu-bumbunya itu, makanannya, pada dibenahin," jelas Yafa.

Aksi anarkis kelompok tersebut dinilai warga sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya di lingkungan mereka.

"Nggak sih baru pertama kali mungkin bikin onar di sini," kata Yafa.

Dalam pemeriksaan lokasi, polisi mengumpulkan sejumlah barang bukti di area bentrokan yang berantakan.

"Di TKP kita menemukan ada puing-puing, puing-puing dari bangunan yang terbakar, juga ada kendaraan yang terbakar, juga jejak darah dan batu yang berlumuran darah," kata AKBP Roby Heri Saputra.

Polisi menambahkan tidak menemukan penggunaan senjata tajam dari olah TKP di lokasi tersebut.

"Untuk saat ini kita belum menemukan ada senjata tajam yang digunakan atau yang kita temukan di lokasi," ucap AKBP Roby Heri Saputra.

Di sisi lain, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold Hutagalung menjelaskan kronologi versi kepolisian terkait tindakan menggeber kendaraan bermotor yang memicu keresahan warga.

"Bahwasanya ada dua orang yang menggunakan kendaraan bermotor melewati jualan-kita tahu bersama yaitu nasi uduk yang gerobaknya terdampak dirusak-itu karena menggeber-geber motornya," kata Kombes Reynold Hutagalung.

Suara knalpot yang bising memicu teguran warga, yang kemudian direspons pemotor dengan membawa lima rekannya untuk melakukan perusakan.

"Sehingga knalpot tersebut membuat kebisingan, ditegur tidak terima, dan dua orang itu mengajak teman-teman lainnya sejumlah lima orang kembali ke lokasi yang melakukan keributan bahkan merusak di beberapa UMKM yang ada, bahkan ada warga yang terpukul," jelas Kombes Reynold Hutagalung.

Masyarakat yang merasa terusik melakukan tindakan pelemparan balik hingga menyebabkan korban luka dievakuasi ke rumah sakit.

"Dan mengakibatkan warga spontan karena merasa bahwasanya terusik warga lingkungan sekitar, sehingga melakukan pelemparan yang mengakibatkan dua orang di lokasi ini harus dievakuasi oleh kepolisian," tambah Kombes Reynold Hutagalung.

Kapolres mengonfirmasi pengamanan 15 orang serta pembagian klaster pemeriksaan untuk mendalami kasus ini secara rinci.

"Kalau untuk peristiwa itu secara keseluruhan kami melakukan pengamanan pemeriksaan secara intensif itu sejumlah kurang lebih 15 orang. Namun untuk klastering dalam peristiwa-peristiwa, kami beda-bedakan," kata Kombes Reynold Hutagalung.

Penetapan peran tersangka dan korban masih didalami oleh tim penyidik Polsek Menteng.

"Mana korban ataupun yang patut diduga sebagai pelaku, tentunya itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," ujar Kombes Reynold Hutagalung.

Tiga orang terduga pelaku penganiayaan saat ini telah ditahan oleh pihak kepolisian.

"Dilakukan pemeriksaan secara intensif untuk mengetahui asal-muasal peristiwa tersebut," kata Kombes Reynold Hutagalung.

Warga sekitar lokasi kejadian bernama Yuli (26) mengeluhkan aktivitas di lahan kosong Jalan Tambak I yang kerap menimbulkan kebisingan hingga larut malam.

"Kalau malam juga sering itu kan ramai-ramai kayak gitu, nyanyi-nyanyi. Jadi enggak ada berhentinya. Pas waktu adzan pun masih ramai gitu, enggak dimatiin (musiknya)," kata Yuli.

Kebisingan musik tersebut dirasakan warga hampir setiap hari tanpa henti.

"Hampir tiap hari enggak ada berhentinya," ujar Yuli.

Kondisi larut malam membuat para pekerja di sekitar lokasi merasa sangat terganggu.

"Risih juga kan tiap malam. Kalau siang mah enggak apa-apa, itu kan malam. Terus kasihan sama orang-orang proyek, takut terganggu kayak gitu. Kayak kita aja yang malam terganggu pas lagi kerja," katanya.

Yuli menuturkan warga yang geram sempat membawa berbagai benda saat melakukan aksi penyerangan balik.

"Ada, banyak itu (senjata). Tapi itu yang bawa itu warga. Kalau pihak lawan cuma lemparin batu-batunya doang," kata Yuli.

Aksi dilanjutkan dengan pembakaran rumah di area lahan kosong setelah gerbang jebol.

"Sempat kejar-kejaran. Terus kan pas arah sebelah pintu kanan kan ada yang jebol, jadi si warga masuk ke situ terus langsung dibakar rumahnya," ujarnya.

Mengenai keluhan kebisingan warga, Kombes Reynold Hutagalung menegaskan komitmen kepolisian untuk meningkatkan patroli pengamanan.

"Sejauh ini bilamana memang itu menjadi informasi, pasti kami tindak lanjuti. Sehingga sekecil apa pun yang mengganggu kenyamanan warga, sampai dengan malam ini dan seterusnya kami pastikan kami patroli untuk memberikan ketertiban, menjaga keamanan, kenyamanan di lingkungan Jakarta Pusat," kata Kombes Reynold Hutagalung.

Pihaknya memastikan seluruh aktivitas ilegal atau mengganggu di lokasi akan diproses secara hukum.

"Kami pasti tentu melakukan pendalaman ya terkait hal itu. Namun, semua itu kami proses sesuai dengan fakta-fakta hukum dan fakta-fakta yang ada di lapangan," ujar Kombes Reynold Hutagalung.

Tiga warga yang diamankan terkait penganiayaan telah dikonfirmasi identitas inisialnya.

"Kami secara penegakan hukum telah mengamankan tiga orang warga yang terlibat di dalam melakukan penganiayaan tersebut yaitu saudara S, T, dan U yang saat ini sudah diamankan di Polsek Menteng," kata Kombes Reynold Hutagalung.

Di sisi lain, Sekjen DPN PETIR Nefton Alfares memberikan klarifikasi mewakili kelompok Ambon terkait tuduhan di media sosial.

"Nah, sekali lagi saya merespons apa yang disampaikan oleh Pak Kapolsek tadi, bahwa itu tidak benar. Pemicunya adalah ada orang yang ada sementara duduk di nasi uduk, kemudian saudara-saudara kami kebetulan menyalakan motor dan bunyi motor itu dianggap bising oleh warga yang duduk di nasi uduk ini, sehingga terjadilah cekcok mulut di situ," ucap Nefton Alfares.

Nefton juga membantah adanya isu pengerusakan rumah ibadah di lokasi bentrokan.

"Nah, kemudian ada isu lagi bahwa ada pengrusakan tempat ibadah yaitu masjid. Kami sampaikan bahwa isu itu tidak benar. Yang benar adalah peristiwanya kebetulan terjadi di depan masjid. Kebetulan terjadi di depan masjid, jadi bukan saudara-saudara kami ini sengaja melakukan pengrusakan terhadap masjid," ujar Nefton Alfares.

Ia menepis kabar bahwa anggotanya membeli nasi uduk tanpa membayar.

"Nah, ini mohon supaya informasi yang berkembang di luar sana itu informasi bohong semua. Saudara kami tidak pernah makan nasi uduk dan tidak membayar, bahkan membeli pun tidak. Membeli pun tidak, ya, saya tegaskan membeli pun tidak.

Tidak makan di situ. Hanya karena kebetulan mereka menyalakan motor dan kemudian ini dianggap motor ini bising dan direspons oleh yang duduk di nasi uduk itu," tegas Nefton Alfares.

Pihaknya mendesak kepolisian untuk menangkap semua pelaku yang terlibat dalam penyerangan tersebut.

"Nah, itu informasi yang benar. Dan ini kami nyatakan bahwa informasi ini valid karena ini sumbernya langsung dari Polsek Menteng, dari Pak Kapolsek yang sudah menyampaikan tadi. Ya, demikian itu penjelasan kami supaya jangan di-framing di luar sana bahwa kami orang Timur ini sudah makan tidak bayar, merusak gerobak.

Nah, itu tidak benar. Kami sampaikan tidak benar," sambungnya.

Ia menuntut keadilan hukum yang setara bagi seluruh korban dari pihak mereka.

"Nah, kemudian permintaan kami lagi, semua yang teridentifikasi di dalam video itu, kami minta semuanya ditangkap! Karena itu pelaku murni yang mengakibatkan dua orang saudara kami korban, menjadi korban," tutur Nefton Alfares.

Keluarga berharap proses hukum berjalan tanpa diskriminasi.

"Dan kami selaku keluarga, kami meminta ini hukum ini benar-benar ditegakkan. Jangan ketika kami orang Timur ini yang melakukan dugaan kriminal diuber sampai ke hutan-hutan sana ditangkap, tetapi kemudian dilakukan oleh warga yang lain terkesan ada pembiaran. Ya, itu dari saya," tandas Nefton Alfares.

Kombes Reynold Hutagalung menyampaikan duka cita atas meninggalnya korban berinisial K.

"Mengakibatkan warga spontan karena merasa bahwasanya terusik warga lingkungan sekitar, sehingga melakukan pelemparan yang mengakibatkan dua orang di lokasi ini harus dievakuasi dengan kepolisian ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Dengan inisial yang satu atas nama inisial K, dan yang satu DS," kata Kombes Reynold Hutagalung.

Polisi terus mendampingi penanganan medis para korban di rumah sakit.

"Kami juga turut berduka cita bahwasanya dengan informasi yang ada, Saudara K umur 23 telah meninggal dunia," lanjut Kombes Reynold Hutagalung.

Tiga orang terduga penganiaya diproses hukum intensif di kantor polisi.

"Kami secara penegakan hukum telah mengamankan tiga orang warga yang terlibat di dalam melakukan penganiayaan tersebut yaitu Saudara S, Saudara T, dan Saudara U yang saat ini sudah diamankan di Polsek Menteng. Dilakukan pemeriksaan secara intensif untuk mengetahui asal-muasal peristiwa tersebut," jelasnya.

Polisi mengelompokkan penanganan tempat kejadian perkara untuk mempermudah penyidikan.

"Kalau untuk peristiwa itu secara keseluruhan kami melakukan pengamanan pemeriksaan secara intensif itu sejumlah kurang lebih 15 orang. Namun untuk klastering dalam peristiwa-peristiwa, kami beda-bedakan. Jadi terkait dengan peristiwa yang ada di Matraman, Matraman Dalam, dan peristiwa di Jalan Tambak ini kami pisahkan. Mana korban ataupun yang patut diduga sebagai pelaku, tentunya itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," ujar Kombes Reynold Hutagalung.

Motif perselisihan awal terus didalami oleh tim gabungan Polsek Menteng dan Polres Jakarta Pusat.

"Saat ini motif yang kami terima bahwasanya ada dua orang yang menggunakan kendaraan bermotor melewati jualan kita tahu bersama yaitu nasi uduk yang gerobaknya terdampak dirusak, itu karena menggeber-geber motornya. Sehingga knalpot tersebut membuat kebisingan, ditegur tidak terima, dan dua orang itu mengajak teman-teman lainnya sejumlah lima orang kembali ke lokasi yang melakukan keributan bahkan merusak di beberapa UMKM yang ada, bahkan ada warga yang terpukul," ucap Kombes Reynold Hutagalung.

Kepolisian berjanji menindak tegas semua pihak yang terbukti melanggar hukum.

"Dan ini juga patut kami melakukan untuk gakkum agar kedua belah pihak dapat secara adil dalam proses penegakan hukum, baik sisi warga maupun sekelompok orang yang menjadi korban," tambah Kombes Reynold Hutagalung.

Saat ini personel TNI dan Brimob disiagakan di lokasi bentrokan untuk melakukan patroli rutin guna mencegah potensi bentrokan susulan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author