Bentrok di Kapal Induk USS Abraham Lincoln Tewaskan 7 Tentara AS
Bentrokan hebat di kapal induk USS Abraham Lincoln menewaskan tujuh personel Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), memicu desakan penyelidikan dari anggota Kongres Partai Demokrat atas kondisi di kapal tersebut, dilansir dari Detikcom. Kapal induk ini ditugaskan lebih dari 250 hari tanpa berlabuh selama lebih dari 200 hari, rekor terlama di laut yang memunculkan masalah serius seperti kekurangan makanan, kerusakan pipa, dan krisis kesehatan mental di antara awak kapal. Senator Richard Blumenthal menulis surat kepada Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, meminta penjelasan tentang kondisi tersebut.
"Kapal induk ini telah ditugaskan lebih dari 250 hari tanpa berlabuh selama lebih dari 200 hari, memecahkan rekor hari berturut-turut di laut," ujar Blumenthal.
Dia juga menyoroti laporan luas tentang kekurangan pasokan kebutuhan dasar, kontaminasi air, masalah pipa, memburuknya kesehatan mental, dan masalah keselamatan dek di kapal tersebut. Senator Ruben Gallego menyerukan kunjungan pengawasan resmi dengan delegasi Senat bipartisan untuk menyelidiki kondisi di USS Lincoln.
"Kisah-kisah para awak kapal yang mengancam akan melompat dari kapal merupakan peringatan yang menakutkan tentang betapa buruknya situasi yang terjadi: kamar mandi berjamur, air panas yang tidak stabil, makanan dan sabun yang dijatah, toilet yang rusak, dan shift kerja yang melelahkan selama 12 hingga 16 jam tanpa hari libur," tulis Gallego. Gallego juga mengkritik perlakuan Presiden Donald Trump terhadap anggota militer selama perang yang sedang berlangsung.
USS Abraham Lincoln berangkat dari San Diego, California, pada November 2025 dan bertugas di Laut China Selatan serta Timur Tengah sebelum konflik AS-Israel terhadap Iran pada Februari 2026. Anggota keluarga awak kapal melaporkan kondisi sulit termasuk kekurangan makanan dan menuntut kepastian kapan para pelaut dan Marinir bisa kembali ke rumah. Bentrokan yang menewaskan tujuh tentara terjadi saat seorang penasihat Komando Pusat AS, Brad Cooper, naik ke kapal untuk menanggapi keluhan awak kapal yang semakin meningkat.
Keluhan yang disampaikan keluarga awak kapal memicu kemarahan, dan saat itu Cooper disambut dengan cemoohan dan lemparan botol air.
Konfrontasi ini berkembang menjadi perkelahian fisik antarawak kapal dengan penggunaan pisau dan senjata tajam lainnya. Menurut sumber militer yang dikutip kantor berita Iran, Tasnim News Agency, bentrokan ini merupakan refleksi dari keresahan dan tekanan akibat masa pengerahan yang berkepanjangan di kapal induk tersebut.