Benjamin Netanyahu Bersumpah Cegah Iran Miliki Senjata Nuklir

Share

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan komitmennya untuk menghalangi langkah Iran dalam mengembangkan senjata nuklir. Komitmen tersebut disampaikan dalam sebuah acara publik di Tel Aviv, seperti dikutip dari Detikcom melalui laporan AFP pada Senin (22/6/2026).

Menurut Benjamin Netanyahu, pertempuran di kawasan Timur Tengah telah memenuhi target utama Israel untuk menghentikan ambisi nuklir Iran. Langkah militer yang diambil diklaim telah melenyapkan ancaman eksistensial bagi negaranya.

"Kita mencegah Iran melaksanakan rencana untuk memusnahkan kita dan hari ini mereka seharusnya sudah memiliki bom atom untuk melakukannya," katanya, dilansir kantor berita AFP, Senin (22/6/2026).

"Kita mencegah hal itu terjadi. Kita menghilangkan bahaya eksistensial. Seandainya kita tidak bertindak… Iran akan memiliki bom atom dan izinkan saya mengatakan sesuatu, mereka akan menggunakannya," tuturnya.

"Itulah yang kita cegah," imbuhnya.

Benjamin Netanyahu menjelaskan bahwa operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel telah melumpuhkan kekuatan Garda Revolusi Iran. Dirinya menilai dampak kerusakan dari serangan tersebut membutuhkan waktu yang sangat lama untuk pulih.

"Karena begitu Anda memberikan pukulan-pukulan ini dan begitu keretakan antara rezim dan rakyat begitu dalam, Anda tidak dapat mengatakan kapan rezim seperti itu akan jatuh," kata Netanyahu.

"Saya pikir kita telah menciptakan kondisi agar rezim itu jatuh. Itulah yang akan menjadi kemenangan sejati ketika rakyat Iran mengambil kendali atas nasib mereka sendiri dan menyingkirkan rezim brutal yang meneror mereka dan meneror seluruh dunia," imbuh pemimpin negeri Yahudi itu.

Operasi Militer di Lebanon Selatan

Selain fokus pada Iran, Benjamin Netanyahu juga menyatakan bahwa militer Israel akan tetap mempertahankan keberadaan pasukannya di wilayah Lebanon selatan. Operasi tersebut dipastikan berjalan sesuai kebutuhan pengamanan.

"Kami akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon selatan selama diperlukan untuk melindungi penduduk utara yang kami cintai dan semua warga Israel… Tidak ada yang akan mengubah komitmen itu," kata Netanyahu.

Benjamin Netanyahu menambahkan bahwa pergerakan pasukan Israel di Lebanon secara spesifik menyasar kelompok militan Hizbullah. Operasi diklaim diupayakan guna menekan jumlah jatuhnya korban dari kalangan warga sipil.

"Ada beberapa korban sipil dalam setiap perang semacam itu, dalam setiap perang perkotaan semacam itu," ujar Netanyahu.

Pemimpin Israel tersebut menegaskan kembali bahwa konflik yang terjadi bukan ditujukan kepada negara Lebanon, melainkan kepada kelompok Hizbullah. Peluang perdamaian disebut terbuka jika ancaman dari kelompok proksi tersebut dihilangkan.

"Ketika proksi Iran itu tidak lagi menjadi ancaman, ketika dibubarkan, ketika dilucuti senjatanya, ya, kita akan berdamai dengan Lebanon, dan saya menantikan untuk menandatanganinya," ujarnya.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Hizbullah mulai meluncurkan roket ke wilayah Israel pada awal Maret lalu. Tindakan kelompok yang disokong Iran tersebut dilakukan sebagai respons atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author