Beda Dirty Coffee dan Dirty Latte Beserta Asal Usulnya
Tren racikan kopi terus menghadirkan variasi baru yang menarik minat penikmatnya. Dua menu yang belakangan populer adalah dirty coffee dan dirty latte, yaitu sajian espresso panas yang dituang di atas susu dingin tanpa es batu. Sajian unik ini memunculkan efek gradasi atau lapisan yang tampak kotor di dalam gelas.
Dikutip dari Detik Food, racikan tersebut disajikan tanpa stirring atau sedotan untuk memberikan sensasi hangat dan dingin bergantian saat diminum. Dirty coffee menyajikan perpaduan sederhana antara espresso kental dan susu dingin cair. Penamakannya merujuk pada visual espresso yang seolah menodai cairan susu putih cair di bawahnya.
Sajian ini pertama kali diciptakan sekitar tahun 2010 oleh Katsuyuki Tanaka, pendiri kedai Bear and Pond Espresso di Tokyo, Jepang. Ide racikan berawal saat pelanggan mengeluhkan es batu yang mencair dalam minumannya.
Tanaka kemudian menyajikan susu dingin murni dari kulkas tanpa es batu. Di atas susu tersebut, ia menuangkan espresso kental jenis ristretto hingga meninggalkan noda noda crema di pinggir gelas bening.
Perbedaan Dirty Coffee dengan Es Latte Biasa
Meskipun sama-sama memadukan espresso dan susu, proses pembuatan kedua jenis minuman ini berbeda. Es latte dibuat menggunakan susu yang disteam atau dikocok berbusa lalu dicampur es batu dan espresso.
Dirty coffee hanya disajikan dalam satu format, yakni susu dingin tanpa es batu dan espresso panas. Karakter rasanya diawali dengan seduhan pekat yang perlahan berubah menjadi lembut seiring tercampurnya susu.
Kandungan kafein dirty coffee berkisar antara 60 hingga 80 mg. Angka ini cenderung lebih rendah dibanding latte biasa yang memiliki rentang kafein 60 sampai 126 mg tergantung jumlah shot espresso.
Alasan Istilah Dirty Latte Muncul
Sebutan dirty latte mulai populer dari kafe-kafe di Bangkok, Thailand. Pengelola kafe mengadaptasi konsep racikan dari Tanaka di Tokyo, lalu menyisipkan kata latte agar lebih familiar di telinga pelanggan.
Dirty coffee dan dirty latte pada dasarnya merupakan dua istilah untuk minuman yang sama. Penamaan dirty coffee lebih populer di Jepang, sementara istilah dirty latte lebih sering ditemui di kawasan Bangkok.
Karakteristik utama minuman ini terletak pada cara penyajiannya yang tanpa es dan disajikan dalam gelas bening. Tegukan pertama menghadirkan rasa pahit espresso yang kuat sebelum berpadu dengan gurihnya susu dingin.