Bauran Energi Terbarukan Indonesia Lampaui Target Kuartal I 2026
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat bauran energi baru terbarukan dalam sistem kelistrikan nasional telah mencapai 17,89 persen hingga April 2026.
Capaian tersebut berhasil melampaui target yang ditetapkan pemerintah sebesar 16,46 persen, di tengah total produksi listrik nasional yang menyentuh angka 165,51 terawatt-hours pada periode yang sama.
Peningkatan ini dinilai sebagai indikator positif dalam agenda transisi energi nasional yang sedang berjalan.
"Bauran EBT telah meningkat melampaui target," ujar Tri Winarno, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Kamis (4/6).
Kendati menunjukkan pertumbuhan positif, sektor ketenagalistrikan domestik dinilai masih memerlukan langkah akselerasi yang masif.
"(Upaya transisi energi) masih memerlukan percepatan untuk mengurangi dominasi bahan bakar fosil dalam sistem kelistrikan nasional," kata Tri Winarno.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, batu bara tetap menjadi penopang utama pembangkitan listrik nasional dengan porsi 64,87 persen. Wilayah Sumatra memimpin transisi dengan kontribusi energi terbarukan mencapai 41,76 persen dari total produksi 32,42 terawatt-hours, mengungguli batu bara yang berada di angka 38,40 persen. Sebaliknya, wilayah Jawa dan Bali yang memegang pangsa konsumsi terbesar yakni 87,43 terawatt-hours masih sangat bergantung pada batu bara sebesar 70,99 persen, sementara bauran energi terbarukannya baru menyentuh 10,01 percent.
Menanggapi situasi tersebut, PT PLN persero telah menyiapkan cetak biru sepuluh tahun melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2025–2034. Perusahaan menargetkan 76 percent dari total kapasitas pembangkit baru atau setara 52,8 gigawatt akan bersumber dari energi bersih seperti surya, hidro, angin, dan geotermal.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo memastikan bahwa badan usaha milik negara tersebut terus bergerak cepat dari tahap perencanaan menuju eksekusi proyek di lapangan.
"Dari 52,8 GW, 43 persen pembangkit listrik berbasis energi terbarukan sedang dalam proses eksekusi. Kami diwajibkan melapor setiap dua minggu," kata Darmawan Prasodjo.
Hingga saat ini, sekitar 22,57 gigawatt proyek energi hijau telah masuk dalam tahap pengembangan, dengan 0,78 gigawatt di antaranya telah beroperasi penuh secara komersial.
Jika ditarik pada performa kuartal pertama 2026, data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi menunjukkan bauran energi bersih secara umum berada di angka 18,3 persen, meningkat dari 15,75 persen pada tahun 2025. Sektor ketenagalistrikan menyumbang 9,75 persen poin, sedangkan penggunaan non-listrik menyumbang 8,55 persen poin.
| Sektor Pembangkit Listrik | Persentase Poin |
|---|---|
| Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) | 3,59% |
| Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa | 3,27% |
| Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) | 1,91% |
| Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) | 0,51% |
| Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) | 0,06% |
| Sumber Terbarukan Lainnya | 0,41% |
| Sektor Non-Listrik | – |
| Biodiesel (FAME) | 5,38% |
| Penggunaan Biomassa Direct | 2,91% |
| Sumber Non-Listrik Lainnya | 0,26% |
Rencana strategis Kementerian ESDM periode 2025-2029 menetapkan target pasokan energi terbarukan berada di kisaran 17 persen hingga 21 persen untuk tahun ini. Pemerintah Indonesia memperkirakan target bauran energi primer sebesar 23 persen dapat terealisasi sepenuhnya pada tahun 2030, dan diproyeksikan melonjak hingga mencapai 46 persen pada tahun 2045.