Batagor Bandung Raih Gorengan Terenak di Asia Tenggara Versi TasteAtlas 2026

Share

Batagor khas Bandung sukses menempati posisi pertama dalam daftar gorengan terenak di Asia Tenggara versi TasteAtlas 2026. Kuliner tradisional Indonesia ini berhasil meraih rating sebesar 4,4 berdasarkan ribuan ulasan pengguna dari berbagai negara.

Prestasi membanggakan ini diraih setelah mengungguli berbagai kudapan populer dari negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Thailand, hingga Vietnam. Cita rasa gurih dari adonan ikan yang dipadukan dengan saus kacang khas menjadi keunggulan utama makanan ini.

Dikutip dari Detik Food dan TasteAtlas pada Selasa (02/06/2026), peringkat tersebut disusun berdasarkan lebih dari 2.900 penilaian pengguna, dengan sekitar 2.003 ulasan yang dinyatakan valid oleh sistem. Keberhasilan ini semakin menegaskan posisi kuat kuliner Indonesia di tingkat internasional.

Indonesia tidak hanya menempatkan batagor di posisi puncak, melainkan juga mendominasi daftar lima besar gorengan terbaik di kawasan regional ini. Ayam goreng dan pempek turut masuk ke dalam jajaran peringkat teratas.

Daftar Lima Besar Gorengan Terenak di Asia Tenggara Versi TasteAtlas 2026
Peringkat Nama Kuliner Asal Negara
1 Batagor Indonesia
2 Karipap Malaysia
3 Lumpiang Shanghai Filipina
4 Ayam Goreng Indonesia
5 Pempek Indonesia

Keberadaan tiga jenis makanan khas lokal dalam daftar lima besar tersebut membuktikan tingginya apresiasi masyarakat global terhadap kekayaan rasa hidangan berbasis gorengan dari tanah air.

Karakteristik dan Komposisi Bahan Utama

Nama batagor sendiri merupakan akronim dari bakso tahu goreng yang mencerminkan bahan baku sekaligus metode pengolahannya. Jajanan kaki lima asal Jawa Barat ini terbuat dari adonan ikan tenggiri yang dicampur dengan tepung tapioka.

Adonan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tahu atau kulit pangsit sebelum digoreng hingga mencapai tekstur yang renyah. Hidangan ini disajikan dengan siraman bumbu kacang, kecap manis, saus sambal, serta perasan jeruk limau segar.

Meskipun memiliki kemiripan bahan dengan siomay, perbedaan mendasar keduanya terletak pada cara memasak. Siomay dimatangkan dengan metode kukus, sedangkan batagor digoreng hingga menghasilkan tekstur yang garing dan gurih.

Asal-Usul dan Perkembangan Sejarah

Kemunculan batagor di wilayah Bandung mulai terdeteksi secara luas pada akhir dekade 1960-an. Kuliner ini diyakini mengadopsi pengaruh dari tradisi kuliner Tionghoa, khususnya pada kombinasi adonan ikan dengan tahu serta kulit pangsit.

Catatan sejarah lain menyebutkan bahwa kudapan ini pertama kali diciptakan oleh H. Isan, seorang perantau asal Purwokerto yang menetap di Bandung sekitar tahun 1970-an. Kehadiran menu ini berawal dari upayanya memanfaatkan sisa produk dagangan.

H. Isan menggoreng sisa bakso dan tahu kukus yang tidak habis terjual agar tidak terbuang sia-sia. Hasil olahan baru tersebut kemudian dikombinasikan dengan bumbu kacang racikan pribadi dan dibagikan kepada para tetangga sekitar.

Menu eksperimen tersebut mendapatkan respons yang sangat positif karena memiliki cita rasa yang lezat. Sejak momen itu, popularitas batagor terus berkembang pesat hingga bertransformasi menjadi salah satu ikon kuliner legendaris Bandung.

Destinasi Kuliner Legendaris di Bandung

Saat ini batagor sangat mudah dijumpai di berbagai tempat, mulai dari pedagang gerobak keliling hingga restoran modern. Kota Bandung menyimpan beberapa nama kedai legendaris yang menjadi pusat buruan para penikmat kuliner nusantara.

Bagi pelancong yang ingin merasakan rasa autentik, Kedai Batagor H. Isan di Bojongloa yang beroperasi sejak 1968 menawarkan harga terjangkau berkisar Rp 5.000 per biji. Tempat ini konsisten mempertahankan resep awal dan selalu ramai dikunjungi pembeli.

Untuk varian kelas premium, Batagor Kingsley menjadi destinasi utama wisatawan domestik maupun luar daerah. Meskipun dibanderol dengan harga yang relatif lebih tinggi berkisar Rp 40.000 per porsi, produk ini tetap diminati karena kualitas rasa yang ditawarkan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author